Selasa, 18 November 2014

KANON




(Alkitab).

Pada mulanya, buluh (Ibr., qa·neh) berfungsi sebagai patokan atau alat pengukur. (Yeh 40:3-8; 41:8; 42:16-19) Rasul Paulus menggunakan ka·non untuk ”daerah” yang telah dibagikan sebagai tempat tugasnya, dan sekali lagi untuk ”peraturan tingkah laku” sebagai tolok ukur tindakan orang Kristen. (2Kor 10:13-16; Gal 6:16) ”Kanon Alkitab” belakangan memaksudkan katalog buku-buku terilham yang layak digunakan sebagai tolok ukur untuk iman, doktrin, dan tingkah laku.—Lihat ALKITAB.



Penulisan sebuah buku agama, pelestariannya selama ratusan tahun, dan fakta bahwa jutaan orang menghargainya, tidak secara langsung membuktikan bahwa buku itu berasal dari Allah atau kanonis. Harus ada jaminan bahwa Allah adalah Pengarangnya dan yang mengilhamkannya. Rasul Petrus menyatakan, ”Nubuat tidak pernah dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi manusia mengatakan apa yang berasal dari Allah seraya mereka dibimbing oleh roh kudus.” (2Ptr 1:21) Dengan memeriksa kanon Alkitab, kita dapat melihat bahwa isinya memenuhi kriteria ini dalam setiap aspeknya.

Kitab-Kitab Ibrani. Alkitab diawali dengan tulisan-tulisan Musa, tahun 1513 SM. Tulisan-tulisan ini melestarikan perintah dan hukum Allah kepada Adam, Nuh, Abraham, Ishak, dan Yakub, dan juga peraturan-peraturan dalam perjanjian Hukum. Apa yang disebut Pentateukh mencakup lima buku, yakni Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Buku Ayub, yang tampaknya juga ditulis oleh Musa, melengkapi sejarah setelah kematian Yusuf (1657 SM) dan sebelum Musa terbukti sebagai hamba Allah yang memelihara integritas, suatu masa ketika ”tidak ada seorang pun yang seperti [Ayub] di bumi”. (Ayb 1:8; 2:3) Musa juga menulis Mazmur 90 dan, mungkin, 91.

Mengingat bukti internalnya, sama sekali tidak diragukan bahwa tulisan-tulisan Musa ini berasal dari sumber ilahi, diilhamkan Allah, kanonis, dan adalah pedoman yang aman untuk ibadat murni. Bukan atas prakarsanya sendiri Musa menjadi pemimpin dan komandan orang Israel; pada mulanya Musa enggan menerima kedudukan itu. (Kel 3:10, 11; 4:10-14) Allah-lah yang mengangkat Musa dan mengaruniakan kepadanya kuasa untuk mengadakan mukjizat, sehingga bahkan imam-imam Firaun yang mempraktekkan ilmu gaib terpaksa mengakui bahwa apa yang Musa lakukan berasal dari Allah. (Kel 4:1-9; 8:16-19) Jadi, Musa menjadi orator dan penulis bukan atas ambisi pribadinya. Sebaliknya, karena menaati perintah Allah dan menerima roh kudus sebagai bukti pengangkatan ilahi itulah Musa tergerak untuk pertama-tama berbicara dan kemudian menuliskan sebagian dari kanon Alkitab.—Kel 17:14.

Yehuwa sendiri memberikan preseden sehubungan dengan menuliskan hukum dan perintah-Nya. Seusai berbicara kepada Musa di G. Sinai, Yehuwa ”memberikan kepada Musa dua lempeng Kesaksian, lempeng-lempeng batu yang ditulisi oleh jari Allah”. (Kel 31:18) Kemudian kita membaca, ”Selanjutnya Yehuwa berfirman kepada Musa, ’Tuliskanlah firman ini.’” (Kel 34:27) Oleh karena itu, Yehuwa-lah yang berkomunikasi dengan Musa dan memerintahkan dia untuk menuliskan serta melestarikan kelima buku pertama kanon Alkitab. Bukan suatu dewan manusia yang menyatakannya kanonis; sejak awal mula, buku-buku itu telah diakui Allah.

”Segera setelah Musa selesai menuliskan perkataan hukum ini”, ia memberikan perintah kepada orang-orang Lewi, ”Ambillah buku hukum ini, letakkan itu di samping tabut perjanjian Yehuwa, Allahmu, dan buku ini akan menjadi saksi di sana sehubungan dengan engkau.” (Ul 31:9, 24-26) Patut diperhatikan bahwa Israel mengakui catatan tentang hal-hal yang telah Allah lakukan dan tidak menyangkal fakta-fakta tersebut. Mengingat isi buku-buku ini sering mendiskreditkan bangsa itu secara keseluruhan, pastilah umat itu akan menolak buku-buku tersebut jika mungkin, tetapi tampaknya hal itu tidak pernah terjadi.

Seperti Musa, golongan imam digunakan oleh Allah baik untuk melestarikan perintah-perintah tertulis itu maupun untuk mengajarkannya kepada umat. Pada waktu Tabut dibawa ke bait Salomo (1026 SM), hampir 500 tahun sejak Musa mulai menulis Pentateukh, kedua lempeng batu masih ada di dalam Tabut (1Raj 8:9), dan 384 tahun setelah itu, ketika ”buku hukum” ditemukan di rumah Yehuwa pada tahun ke-18 masa pemerintahan Yosia (642 SM), buku itu masih sangat dihargai. (2Raj 22:3, 8-20) Demikian pula setelah kembali dari pembuangan di Babilon, umat ”bergembira” ketika Ezra membacakan buku Hukum sewaktu berlangsungnya pertemuan selama delapan hari.—Neh 8:5-18.

Setelah kematian Musa, tulisan-tulisan Yosua, Samuel, Gad, dan Natan (Yosua, Hakim-Hakim, Rut, 1 dan 2 Samuel) ditambahkan. Raja Daud dan Raja Salomo juga turut menambah isi kanon Tulisan-Tulisan Kudus. Lalu disusul oleh para nabi mulai dari Yunus sampai Maleakhi. Mereka masing-masing menyumbangkan karyanya ke dalam kanon Alkitab, dikaruniai Allah kemampuan untuk bernubuat secara mukjizat, dan memenuhi syarat-syarat yang diuraikan Yehuwa bagi nabi-nabi sejati, yakni berbicara dengan nama Yehuwa, nubuat mereka menjadi kenyataan, dan membuat umat berpaling kepada Allah. (Ul 13:1-3; 18:20-22) Sewaktu Hanania dan Yeremia diuji sehubungan dengan dua syarat terakhir (keduanya berbicara dengan nama Yehuwa), hanya perkataan Yeremia-lah yang terjadi. Demikianlah, Yeremia terbukti sebagai nabi Yehuwa.—Yer 28:10-17.

Mengingat Yehuwa mengilhami manusia untuk menulis, masuk akal bahwa Ia juga akan membimbing dan mengawasi pengumpulan dan pelestarian tulisan-tulisan terilham ini agar umat manusia memiliki tolok ukur yang langgeng dan kanonis untuk ibadat sejati. Menurut kisah turun-temurun orang Yahudi, Ezra turut berperan dalam pekerjaan ini setelah orang Yahudi buangan pulang dan bermukim kembali di Yehuda. Ia pasti kompeten untuk pekerjaan itu, karena ia salah satu penulis Alkitab yang terilham, seorang imam, dan juga ”seorang penyalin yang mahir sehubungan dengan hukum Musa”. (Ezr 7:1-11) Tinggal buku Nehemia dan buku Maleakhi saja yang belum ditambahkan. Dengan demikian, kanon Kitab-Kitab Ibrani sudah selesai ditetapkan menjelang akhir abad kelima SM, dan memuat tulisan-tulisan yang sama seperti yang kita miliki sekarang.

Menurut tradisi, kanon Kitab-Kitab Ibrani dibagi menjadi tiga bagian: Hukum, Kitab Para Nabi, dan Tulisan-Tulisan, atau Hagiografa, yang terangkum dalam 24 buku, sebagaimana terlihat dalam bagan. Selanjutnya, dengan menggabungkan Rut dengan Hakim-Hakim, dan Ratapan dengan Yeremia, beberapa orang Yahudi yang berwenang menyatakan bahwa jumlahnya 22, sama dengan jumlah huruf dalam abjad Ibrani. Kendati Yerome tampaknya lebih suka dengan jumlah 22, dalam kata pengantarnya untuk buku Samuel dan Raja-Raja, ia mengatakan, ”Ada yang memasukkan Rut dan juga Ratapan ke dalam Hagiografa . . . sehingga ada dua puluh empat buku.”

Sejarawan Yahudi bernama Yosefus, ketika menjawab para penentangnya dalam karyanya Against Apion (I, 38-40 [8]) sekitar tahun 100 M, meneguhkan bahwa pada waktu itu kanon Kitab-Kitab Ibrani telah ditetapkan sejak lama. Ia menulis, ”Kami tidak memiliki banyak sekali buku yang tidak konsisten, yang saling bertentangan. Buku-buku kami, yang secara sah diakui, hanya ada dua dan dua puluh, dan memuat catatan tentang segala zaman. Di antaranya, lima adalah buku-buku Musa, yang terdiri dari hukum-hukum dan sejarah turun-temurun sejak kelahiran manusia hingga kematian si pemberi hukum. . . . Dari kematian Musa sampai Artahsasta, yang menggantikan Xerxes sebagai raja Persia, nabi-nabi setelah Musa menulis sejarah tentang peristiwa-peristiwa pada zaman mereka dalam tiga belas buku. Empat buku sisanya berisi himne kepada Allah dan prinsip-prinsip bertingkah laku dalam kehidupan manusia.”

Jadi, kekanonisan sebuah buku tidak bergantung secara keseluruhan atau sebagian pada apakah suatu dewan, komite, atau kelompok menerima atau menolaknya. Perkataan pria-pria yang tidak terilham demikian hanya berguna sebagai peneguhan atas apa yang telah dilakukan oleh Allah sendiri melalui wakil-wakil-Nya yang diakui.

Berapa persisnya jumlah buku dalam Kitab-Kitab Ibrani tidaklah penting (tidak soal dua buku tertentu digabung atau dibiarkan terpisah), demikian pula urutan buku-bukunya, karena tetap berbentuk gulungan-gulungan terpisah lama setelah kanon ditutup. Katalog-katalog kuno menyusun buku-buku itu dengan urutan yang berbeda-beda, sebagai contoh, ada yang menempatkan buku Yesaya setelah buku Yehezkiel. Akan tetapi, yang paling penting adalah buku-buku mana yang dimasukkan. Sesungguhnya, hanya buku-buku yang sekarang termasuk kanon itulah yang secara sah layak disebut buku-buku yang kanonis. Sejak dahulu, sudah ada penolakan terhadap upaya-upaya untuk memasukkan tulisan-tulisan lain. Dua konsili Yahudi yang masing-masing diadakan sekitar tahun 90 dan tahun 118 M di Yavne atau Yamnia, tidak jauh di sebelah selatan Yopa, ketika membahas tentang Kitab-Kitab Ibrani, dengan tegas tidak memasukkan semua tulisan Apokrifa.

Yosefus memberikan kesaksian tentang pendapat umum orang Yahudi mengenai tulisan-tulisan Apokrifa ketika ia mengatakan, ”Sejak Artahsasta hingga zaman kami, sejarah lengkap telah ditulis, tetapi tidak dianggap pantas untuk disamakan nilainya dengan catatan-catatan yang lebih awal, karena tidak ada urutan nabi yang tepat. Kami telah memberikan bukti yang dapat diandalkan sehubungan dengan rasa hormat kami bagi Tulisan-Tulisan Kudus kami sendiri. Sebab, meskipun waktu yang begitu panjang telah berlalu, tidak ada yang berani untuk menambah, atau menghilangkan, atau mengubah satu suku kata; dan setiap orang Yahudi memiliki naluri, sejak lahir, untuk menganggapnya sebagai ketetapan Allah, untuk mengindahkannya, dan jika perlu, untuk dengan bersukacita mati demi kepentingannya.”—Against Apion, I, 41-43 (8).

Pendirian sehubungan dengan kanon Kitab Ibrani ini, yang telah lama dianut orang Yahudi dan diakui sejarah, sangatlah penting mengingat apa yang Paulus tulis kepada orang-orang di Roma. Sang rasul mengatakan bahwa kepada orang Yahudi-lah ”pernyataan-pernyataan suci Allah dipercayakan”, termasuk penulisan dan perlindungan kanon Alkitab.—Rm 3:1, 2.

Konsili-konsili masa awal (Laodikia, 367 M; Kalsedon, 451 M) dan orang-orang yang disebut bapak gereja mengakui, tetapi tentunya tidak menetapkan, kanon Alkitab yang telah disahkan oleh roh kudus Allah; secara bulat semuanya setuju untuk menerima kanon Yahudi yang telah ditetapkan dan menolak buku-buku Apokrifa. Pria-pria itu antara lain: Yustin Martyr, seorang apologis Kristen (meninggal ± 165 M); Melito, ”uskup” Sardis (abad ke-2 M); Origenes, pakar Alkitab (185?-254? M); Hilarius, ”uskup” Poitiers (meninggal 367? M); Epifanius, ”uskup” Konstantia (dari 367 M); Gregorius Nazianzus (330?-389? M); Rufinus dari Aquileia, ”Penerjemah yang terpelajar untuk Origenes” (345?-410 M); Yerome (340?-420 M), pakar Alkitab dari gereja Latin dan penyusun Vulgata. Dalam kata pengantarnya untuk buku Samuel dan Raja-Raja, setelah menyebutkan satu per satu ke-22 buku dalam Kitab-Kitab Ibrani, Yerome mengatakan, ”Apa pun di luar ini harus digolongkan sebagai apokrifa.”



Kesaksian yang paling meyakinkan mengenai Kitab-Kitab Ibrani adalah perkataan Yesus Kristus dan para penulis Kitab-Kitab Yunani Kristen yang tidak dapat digugat. Meskipun mereka tidak pernah menyebutkan jumlah buku secara persis, kesimpulan yang tidak mungkin salah dari apa yang mereka katakan adalah bahwa buku-buku Apokrifa tidak termasuk dalam kanon Kitab-Kitab Ibrani.

Seandainya tidak ada kumpulan Tulisan Kudus yang sudah pasti, yang dikenal dan diakui oleh mereka dan orang-orang yang mendengar perkataan mereka dan membaca surat mereka, mereka tidak mungkin menggunakan istilah-istilah seperti ”Tulisan-Tulisan Kudus” (Mat 22:29; Kis 18:24); ”Tulisan-Tulisan yang kudus” (Rm 1:2); ”tulisan-tulisan kudus” (2Tim 3:15); ’Hukum’, yang sering kali berarti seluruh Tulisan Kudus (Yoh 10:34; 12:34; 15:25); ”Hukum dan Kitab Para Nabi”, sebagai istilah umum untuk memaksudkan seluruh Kitab-Kitab Ibrani dan bukan hanya bagian pertama dan kedua Kitab-Kitab itu (Mat 5:17; 7:12; 22:40; Luk 16:16). Sewaktu Paulus merujuk ke buku-buku ”Hukum”, ia mengutip dari buku Yesaya.—1Kor 14:21; Yes 28:11.

Sangat kecil kemungkinannya Septuaginta Yunani yang asli memuat buku-buku Apokrifa. (Lihat APOKRIFA.) Namun, sekalipun beberapa tulisan yang diragukan asal usulnya ini menyusup ke dalam salinan-salinan Septuaginta terkemudian yang beredar pada zaman Yesus, ia maupun para penulis Kitab-Kitab Yunani Kristen tidak mengutip dari buku-buku itu meskipun mereka menggunakan Septuaginta; mereka tidak pernah menyebut tulisan Apokrifa sebagai ”Tulisan Kudus” atau produk roh kudus. Jadi, selain tidak memiliki bukti internal tentang ilham ilahi dan pengesahan oleh para penulis Kitab-Kitab Ibrani yang terilham, buku-buku Apokrifa juga tidak memiliki tanda pengakuan dari Yesus dan para rasulnya yang secara sah diakui Allah. Di pihak lain, Yesus memang mengakui kanon Ibrani, karena ia merujuk kepada seluruh Kitab-Kitab Ibrani ketika berbicara tentang ”semua yang tertulis dalam hukum Musa dan dalam Kitab Para Nabi dan Mazmur”; Mazmur adalah buku yang pertama dan terpanjang dalam bagian yang disebut Hagiografa atau Tulisan-Tulisan Kudus.—Luk 24:44.

Kata-kata Yesus di Matius 23:35 (dan di Luk 11:50, 51) juga sangat penting, ”Agar kamu menanggung segenap darah orang yang adil-benar yang ditumpahkan di bumi, mulai dari darah Habel, orang yang adil-benar itu, sampai darah Zakharia putra Barakhia, yang kamu bunuh di antara tempat suci dan mezbah.” Ditinjau dari sudut waktu, nabi Uriya dibunuh pada masa pemerintahan Yehoyakim lebih dari dua abad setelah pembunuhan Zakharia menjelang akhir masa pemerintahan Yehoas. (Yer 26:20-23) Jadi, jika Yesus ingin menyebutkan daftar martir secara lengkap, mengapa ia tidak mengatakan, ’dari Habel sampai Uriya’? Jelaslah karena kejadian tentang Zakharia terdapat di 2 Tawarikh 24:20, 21, dan karena itu mendekati akhir kanon Ibrani yang standar. Maka, dalam arti inilah pernyataan Yesus mencakup semua saksi Yehuwa yang dibunuh, yang disebutkan di Kitab-Kitab Ibrani, dari Habel dalam buku pertama (Kejadian) sampai Zakharia dalam buku terakhir (Tawarikh); sebagai ilustrasi, halnya sama seperti jika kita mengatakan ”dari Kejadian sampai Penyingkapan”.

Kitab-Kitab Yunani Kristen. Penulisan serta pengumpulan ke-27 buku yang membentuk kanon Kitab-Kitab Yunani Kristen mirip dengan penulisan serta pengumpulan Kitab-Kitab Ibrani. Kristus ”memberikan pemberian berupa manusia”, ya, ”ia memberikan beberapa orang sebagai rasul, beberapa sebagai nabi, beberapa sebagai penginjil, beberapa sebagai gembala dan guru”. (Ef 4:8, 11-13) Dengan bantuan roh kudus Allah, mereka menyatakan doktrin yang benar bagi sidang Kristen dan, ”melalui suatu pengingat”, mengulangi banyak hal yang sudah dicatat dalam Tulisan-Tulisan Kudus.—2Ptr 1:12, 13; 3:1; Rm 15:15.

Ada juga bukti di luar Tulisan-Tulisan Kudus bahwa, sudah sejak tahun 90-100 M, setidaknya 10 surat Paulus telah dikumpulkan. Dapat dipastikan bahwa sejak awal orang Kristen sudah mulai mengumpulkan tulisan-tulisan Kristen yang terilham.

Kita membaca bahwa ”menjelang akhir abad ke-1, Uskup Klemens dari Roma telah mengenal surat Paulus untuk gereja di Korintus. Setelah Klemens, surat-surat Uskup Ignatius dari Antiokhia maupun Uskup Polikarpus dari Smirna meneguhkan penyebaran surat-surat Paulus pada dekade kedua abad ke-2”. (The International Standard Bible Encyclopedia, diedit oleh G. W. Bromiley, 1979, Jil. 1, hlm. 603) Mereka semua adalah penulis masa awal—Klemens dari Roma (30?-100? M), Polikarpus (69?-155? M), dan Ignatius dari Antiokhia (akhir abad ke-1 dan awal abad ke-2 M) —yang memasukkan di antara tulisan mereka kutipan-kutipan dan bagian-bagian dari berbagai buku dalam Kitab-Kitab Yunani Kristen, sehingga memperlihatkan bahwa mereka mengenal tulisan-tulisan kanonis tersebut.

Yustin Martyr (meninggal ± 165 M) dalam karyanya ”Dialogue With Trypho, a Jew” (XLIX), menggunakan ungkapan ”ada tertulis” ketika mengutip dari Matius, sama seperti yang dilakukan para penulis Injil sendiri sewaktu merujuk ke Kitab-Kitab Ibrani. Demikian pula halnya dengan sebuah karya anonim yang lebih awal, yakni ”Surat Barnabas” (IV). Yustin Martyr dalam ”The First Apology” (LXVI, LXVII) menyebut ”catatan para rasul” sebagai ”Injil”.—The Ante-Nicene Fathers, Jil. I, hlm. 220, 139, 185, 186.



Teofilus dari Antiokhia (abad ke-2 M) menyatakan, ”Baik dalam kitab para nabi maupun dalam Injil, dapat ditemukan pernyataan-pernyataan yang meneguhkan keadilbenaran yang dituntut oleh hukum, karena semua penulisnya berbicara di bawah ilham satu Roh dari Allah.” Teofilus kemudian menggunakan ungkapan-ungkapan seperti ’kata Injil’ (ketika mengutip Mat 5:28, 32, 44, 46; 6:3) dan ”perkataan ilahi memberi kita petunjuk” (ketika mengutip 1Tim 2:2 dan Rm 13:7, 8).—The Ante-Nicene Fathers, 1962, Jil. II, hlm. 114, 115, ”Theophilus to Autolycus” (XII, XIII).

Pada akhir abad kedua tidak ada keraguan bahwa kanon Kitab-Kitab Yunani Kristen telah ditutup, dan kita mendapati bahwa tokoh-tokoh seperti Ireneus, Klemens dari Aleksandria, dan Tertulian menganggap tulisan-tulisan yang membentuk Kitab-Kitab Kristen sama berwenangnya seperti tulisan-tulisan dalam Kitab-Kitab Ibrani. Ketika merujuk ke Tulisan-Tulisan Kudus, Ireneus mengutip surat-surat Paulus tidak kurang dari 200 kali. Klemens mengatakan bahwa ia akan menjawab para penentangnya dengan ”Tulisan-Tulisan Kudus yang kami percayai adalah sah berdasarkan sumbernya yang mahakuasa”, yaitu ”dengan hukum dan kitab para nabi, dan juga dengan Injil yang diagungkan”.—The Ante-Nicene Fathers, Jil. II, hlm. 409, ”The Stromata, or Miscellanies”.

Ada yang mempermasalahkan kekanonisan beberapa buku dari Kitab-Kitab Yunani Kristen, tetapi argumen-argumen mereka sangat lemah. Sebagai contoh, sungguh dangkal penalaran para kritikus yang menolak buku Ibrani hanya karena nama Paulus tidak tercantum dan karena gaya penulisannya sedikit berbeda dari surat-suratnya yang lain. B. F. Westcott menyatakan bahwa ”wewenang kekanonisan Surat itu tidak bergantung pada kepenulisan Paulus”. (The Epistle to the Hebrews, 1892, hlm. lxxi) Keberatan atas dasar tidak adanya nama sang penulis sama sekali tidak berarti jika dibandingkan dengan fakta bahwa buku Ibrani ada dalam Papirus Chester Beatty No. 2 (P46) (berasal dari periode 150 tahun setelah kematian Paulus), yang memuat surat itu bersama kedelapan surat Paulus lainnya.

Adakalanya kekanonisan buku-buku kecil seperti Yakobus, Yudas, Dua dan Tiga Yohanes, serta Dua Petrus dipertanyakan karena buku-buku ini jarang sekali dikutip oleh para penulis masa awal. Akan tetapi, jika digabung, buku-buku itu hanya membentuk satu per tiga puluh enam bagian Kitab-Kitab Yunani Kristen dan karena itu lebih kecil kemungkinannya untuk dirujuk. Sehubungan dengan hal ini, patut diperhatikan bahwa Dua Petrus dikutip oleh Ireneus sebagai buku yang memiliki bukti kekanonisan yang sama seperti bagian-bagian lain dari Kitab-Kitab Yunani. Begitu pula halnya dengan Dua Yohanes. (The Ante-Nicene Fathers, Jil. I, hlm. 551, 557, 341, 443, ”Irenaeus Against Heresies”) Buku Penyingkapan, yang juga ditolak oleh beberapa orang, diteguhkan kebenarannya oleh banyak komentator masa awal, termasuk Papias, Yustin Martyr, Melito, dan Ireneus.

Akan tetapi, faktor penentu kekanonisan yang sesungguhnya tidak bergantung pada seberapa sering atau oleh penulis nonrasuli mana suatu buku telah dikutip. Isinya sendiri harus memberikan bukti bahwa buku itu adalah produk roh kudus. Maka buku itu tidak boleh berisi takhayul atau demonisme, serta tidak boleh menganjurkan penyembahan kepada makhluk ciptaan. Buku itu harus sepenuhnya sesuai dan benar-benar terpadu dengan bagian-bagian lain dalam Alkitab, dengan demikian mendukung bahwa Allah Yehuwa-lah pengarangnya. Setiap buku harus selaras dengan ”pola perkataan yang sehat” dari Allah dan sesuai dengan ajaran serta kegiatan Kristus Yesus. (2Tim 1:13; 1Kor 4:17) Para rasul jelas diakui secara sah oleh Allah dan mereka meneguhkan pernyataan penulis lain misalnya Lukas dan Yakobus, saudara tiri Yesus. Melalui bantuan roh kudus, para rasul mempunyai ”daya pengamatan akan ucapan-ucapan terilham” sehingga dapat menentukan apakah ucapan-ucapan itu berasal dari Allah atau bukan. (1Kor 12:4, 10) Dengan meninggalnya Yohanes, rasul yang terakhir, berakhir pula rangkaian yang dapat diandalkan yang terdiri atas pria-pria yang diilhami Allah itu, sehingga kanon Alkitab ditutup dengan Penyingkapan, Injil Yohanes, dan surat-suratnya.

Dengan kesatuan dan keseimbangannya yang harmonis, ke-66 buku yang kanonis dalam Alkitab kita membuktikan keterpaduan dan kelengkapan Alkitab dan merekomendasikannya kepada kita sebagai buku yang sesungguhnya adalah Firman Yehuwa tentang kebenaran terilham, yang terpelihara hingga sekarang meskipun mendapat serangan semua musuhnya. (1Ptr 1:25) Untuk daftar lengkap ke-66 buku yang membentuk seluruh kanon Alkitab, para penulisnya, kapan selesai ditulis, dan waktu yang ditinjau dalam setiap buku, lihat ”Tabel Buku-Buku Alkitab menurut Tahun Penyelesaiannya” di bawah judul ALKITAB.—Lihat juga setiap buku Alkitab di bawah judul masing-masing.

[Tabel di hlm. 1149]

KANON YAHUDI UNTUK TULISAN-TULISAN KUDUS

Hukum Kitab Para Nabi Tulisan-Tulisan

(Hagiografa)



1. Kejadian 6. Yosua 14. Mazmur

2. Keluaran 7. Hakim-Hakim 15. Amsal

3. Imamat 8. 1, 2 Samuel 16. Ayub

4. Bilangan 9. 1, 2 Raja-Raja 17. Kidung Agung

5. Ulangan 10. Yesaya 18. Rut

11. Yeremia 19. Ratapan

12. Yehezkiel 20. Pengkhotbah

13. Dua Belas Nabi 21. Ester

(Hosea, Yoel, Amos, 22. Daniel

Obaja, Yunus, Mikha, 23. Ezra, Nehemia

Nahum, Habakuk, Zefanya, 24. 1, 2 Tawarikh

Hagai, Zakharia, Maleakhi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar