Senin, 25 November 2013

Alkitab—Apakah yang Kita Miliki Sudah Lengkap?

 
PERISTIWA ini terjadi pada musim dingin di Mesir Hulu 40 tahun yang lalu. Seorang petani Arab sedang menggali untuk mendapatkan tanah yang subur. Tetapi, ia malahan menemukan sesuatu yang mengejutkan. Beliungnya menghantam benda keras—sebuah tempayan tanah liat. Di dalamnya ditemukan 13 jilid buku bersampul kulit yang berasal dari abad kedua M. Namun, baru pada tahun 1955 penemuan arkheologi ini mulai membuat berita-berita utama yang hebat. Dan penemuan ini masih menimbulkan kegemparan di kalangan para pembaca Alkitab, karena beberapa orang menganggap bahwa buku yang ditemukan ini memuat ucapan-ucapan Yesus yang bersifat rahasia.

”Ini adalah perkataan-perkataan rahasia yang diucapkan oleh Yesus yang Pernah Hidup dan ditulis oleh Saudara Kembar, Yudas dan Tomas.” Demikian kata-kata pembukaan dari The Gospel According to Thomas (Injil Tomas), salah satu dari ke-48 dokumen agama Gnostik yang berbeda-beda yang diketemukan di lereng sebuah bukit di Mesir. Sewaktu memberi komentar tentang hal ini, Helmut Koester dari Sekolah Tinggi Teologia Harvard mengatakan bahwa injil Tomas akan menyediakan bahan baru yang penting untuk memahami ajaran-ajaran Yesus. Namun apakah memang demikian? Apakah ada hikmat rahasia yang penting bagi iman anda yang telah hilang dari Alkitab? Atau apakah Alkitab sudah lengkap? Menghadapi pertanyaan-pertanyaan semacam itu, bagaimana jawaban anda?

Saksi-Saksi Yehuwa percaya bahwa Alkitab sudah lengkap. Surat Paulus yang kedua kepada Timotius pasal 3, ayat 16 dan 17, dengan jelas menyatakan kebenarannya. Bunyinya, ”Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”

Asal usul kata ”Alkitab”; menentukan buku-buku mana yang layak termasuk dalam Perpustakaan Ilahi; Apokri tidak diterima.


Asal usul kata ”Alkitab”; menentukan buku-buku mana yang layak termasuk dalam Perpustakaan Ilahi; Apokri tidak diterima.

KARENA Kitab-Kitab yang terilham itu umumnya disebut sebagai Alkitab atau dalam bahasa Inggris Bible, kita berminat untuk mengetahui asal usul dan arti dari kata ”Bible itu. Ini berasal dari kata Yunani bi·bli′a, yang berarti ”buku-buku kecil.” Ini, ternyata berasal dari bi′blos, sebuah kata yang menggambarkan bagian dalam dari tumbuhan papirus yang pada zaman purba dibuat ”kertas” untuk menulis. (Pelabuhan Gebal di pantai Funisia, melalui mana papirus diimpor dari Mesir, belakangan dinamakan Byblos oleh orang-orang Yunani. Lihat Yosua 13:5, catatan kaki NW) Berbagai komunikasi yang tertulis di atas bahan semacam ini belakangan dikenal dengan istilah bi·bli′a. Jadi, bi·bli′a akhirnya dipakai untuk menggambarkan tulisan-tulisan, gulungan, buku, dokumen apa pun, atau ayat-ayat atau bahkan suatu koleksi perpustakaan yang terdiri dari buku-buku kecil.

2 Menarik bahwa, kata ”Bible” itu sendiri secara umum tidak terdapat di dalam teks terjemahan Alkitab bahasa Inggris atau dalam bahasa-bahasa lainnya. Akan tetapi, menjelang abad kedua S. M., kumpulan buku-buku terilham dari Kitab-Kitab Ibrani disebut sebagai ta bi·bli′a dalam bahasa Yunani. Dalam Daniel 9:2 sang nabi menulis: ”Aku, Daniel, memperhatikan dalam kumpulan kitab . . . ” Di sini Septuagint memakai perkataan bi′blois, yaitu bentuk jamak pelengkap penyerta dari bi′blos. Dalam 2 Timotius 4:13, Paulus menulis: ”Jika engkau ke mari bawa juga . . . kitab-kitabku (”gulungan-gulunganku,” NW) [bahasa Yunani, bi·bli′a].” Dalam berbagai bentuk tata bahasanya, kata-kata Yunani bi·bli′on dan bi′blos muncul lebih dari 40 kali dalam Kitab-Kitab Yunani Kristen dan biasanya diterjemahkan sebagai ”gulungan(-gulungan)” atau ”buku(-buku).” Bi·bli′a belakangan dipakai dalam bahasa Latin sebagai kata bentuk tunggal, dan dari kata Latin ini, kata ”Bible” mulai muncul dalam bahasa Inggris.

Minggu, 24 November 2013

Asal usul Natal zaman Modern

Asal Usul Natal Zaman Modern

BAGI jutaan orang di seluruh dunia, Natal adalah saat yang penuh sukacita dalam setahun. Inilah waktunya untuk makan-makan, menjalankan tradisi turun-temurun, dan menikmati kebersamaan dalam keluarga. Hari Natal adalah juga kesempatan bagi sahabat dan sanak saudara untuk bertukar kartu dan hadiah.

Akan tetapi, 150 tahun yang lalu, Natal sebenarnya merupakan hari raya yang sangat berbeda. Dalam bukunya, The Battle for Christmas, profesor sejarah Stephen Nissenbaum menulis, ”Natal . . . adalah saat untuk bermabuk-mabukan karena aturan-aturan yang menuntun perilaku manusia dalam masyarakat untuk sementara diabaikan demi ’karnaval’, semacam Mardi Gras di bulan Desember.”

Bagi orang yang sangat menghormati Natal, gambaran ini mungkin mengganggu perasaannya. Mengapa orang-orang sampai hati menodai hari raya yang bertujuan memperingati kelahiran Putra Allah? Jawabannya mungkin mengejutkan saudara.

Dasar yang Keliru

Sejak kemunculannya pada abad keempat, Natal telah diliputi oleh berbagai kontroversi. Misalnya, timbul pertanyaan tentang hari kelahiran Yesus. Karena Alkitab tidak memerinci hari maupun bulan kelahiran Yesus, berbagai tanggal telah diajukan. Pada abad ketiga, sekelompok teolog Mesir menetapkan tanggal 20 Mei sebagai hari kelahiran Yesus, sedangkan para teolog lainnya lebih menyukai tanggal-tanggal yang lebih awal, seperti tanggal 28 Maret, 2 April, atau 19 April. Menjelang abad ke-18, kelahiran Yesus dikaitkan dengan setiap bulan dalam setahun! Kalau begitu, bagaimana tanggal 25 Desember yang akhirnya terpilih?

Kebanyakan sarjana setuju bahwa tanggal 25 Desember ditetapkan oleh Gereja Katolik sebagai hari kelahiran Yesus. Mengapa? ”Kemungkinan besar alasannya adalah,” kata The New Encyclopædia Britannica, ”orang-orang Kristen masa awal ingin agar tanggalnya bertepatan dengan tanggal festival kafir Romawi bagi ’hari lahir matahari yang tak tertaklukkan’.” Tetapi mengapa orang-orang Kristen yang dianiaya dengan kejam oleh orang-orang kafir selama lebih dari dua setengah abad tiba-tiba saja mengalah pada pihak yang menganiaya mereka?

Pandangan alkitab,mengapa natal bukan perayaan Kristiani ?



 

’NATAL dilarang! Siapa pun yang merayakannya atau bahkan tinggal di rumah, tidak bekerja pada hari Natal akan dijatuhi hukuman!’

Hal yang tampak aneh ini sungguh-sungguh terjadi pada abad ke-17. Orang-orang puritan (salah satu anggota mazhab Gereja Protestan) melarang perayaan itu di Inggris. Apa penyebab pendirian yang demikian tegas untuk menentang Natal? Dan mengapa dewasa ini terdapat jutaan orang yang merasa bahwa Natal bukan bagi umat kristiani?

Dari Mana Sebenarnya Natal Berasal?

Anda mungkin terkejut bila mempelajari bahwa Natal tidak diajarkan oleh Kristus Yesus maupun dirayakan olehnya atau para muridnya di abad pertama. Kenyataannya, tidak ada catatan tentang perayaan Natal sampai 300 tahun setelah Kristus wafat.

Kebanyakan orang yang hidup di zaman itu menyembah matahari, karena mereka merasakan ketergantungan yang kuat pada siklus tahunannya. Berbagai upacara yang terinci menyertai ibadat kepada matahari di Eropa, Mesir, dan Persia. Tema pokok perayaan-perayaan ini adalah kembalinya terang. Matahari, karena tampak lemah selama musim dingin, dimohon untuk kembali dari ’perjalanan jauh’. Perayaan-perayaan itu meliputi pesta pora, makan-makan, dansa-dansi, mendandani rumah dengan aneka lampu dan hiasan serta saling memberi hadiah. Apakah kegiatan-kegiatan ini kelihatannya sudah umum?

Para penyembah matahari yakin bahwa bagian kayu yang tidak terbakar di antara kayu api unggun memiliki kekuatan magis, bahwa menyalakan api unggun dapat memberi kekuatan kepada dewa matahari dan menghidupkan dia kembali, bahwa rumah yang dihias dengan evergreens (jenis pohon yang terus berdaun dan tetap berwarna hijau sepanjang tahun, seperti cemara, pinus, dan lain-lain) akan mengusir roh-roh jahat, bahwa holly (rangkaian sejenis daun-daunan dengan buah berwarna merah) dipersembahkan sebagai suatu janji kembalinya matahari, dan bahwa ranting pohon mistletoe (sejenis tanaman parasit berbuah putih) dapat membawa keberuntungan apabila dikenakan dengan anggun. Kepada perayaan apakah benda-benda ini dihubungkan dewasa ini?

Desember telah menjadi bulan perayaan utama di Roma kafir jauh sebelum Natal diperkenalkan di sana. Pekan Saturnalia (dibaktikan kepada Saturnus, dewa pertanian) dan Dies Natalis Solis Invicti (’Ulang Tahun Matahari yang Tak Tertaklukkan’) diselenggarakan pada waktu itu. Juga, 25 Desember dianggap sebagai hari ulang tahun Mithras, dewa terang orang-orang Persia.

Kebenaran tentang Natal


 

APAKAH Anda memandang penting kebenaran rohani? Jika ya, mungkin Anda pernah mempertanyakan hal-hal ini: (1) Apakah Yesus memang lahir pada tanggal 25 Desember? (2) Siapakah ”orang-orang majus” dan apakah jumlahnya memang tiga orang? (3) ”Bintang” apa yang mengarahkan mereka kepada Yesus? (4) Apa hubungan Sinterklas dengan Yesus dan kelahirannya? (5) Bagaimana pandangan Allah tentang kebiasaan memberi hadiah atau, lebih tepatnya, tukar-menukar hadiah pada waktu Natal?

Sekarang, mari kita bahas pertanyaan-pertanyaan ini berdasarkan Alkitab dan fakta sejarah.
(1) Apakah Yesus Lahir pada Tanggal 25 Desember?

Kebiasaan: Menurut tradisi, kelahiran Yesus terjadi dan dirayakan pada 25 Desember. Ensiklopedi Indonesia menjelaskan bahwa Natal adalah pesta peringatan hari kelahiran Yesus di Betlehem.

Asal usulnya: ”Proses penetapan tanggal 25 Desember tidak berdasarkan Alkitab,” kata The Christmas Encyclopedia, ”tetapi dari perayaan kafir Romawi yang diadakan pada akhir tahun”, sekitar waktu titik balik matahari pada musim dingin di Belahan Bumi Utara. Salah satunya ialah perayaan Saturnalia, untuk menghormati Saturnus, dewa pertanian, ”dan perayaan gabungan untuk dua dewa matahari, Sol dari Roma dan Mitra dari Persia”, kata ensiklopedia yang sama. Hari lahir kedua dewa itu dirayakan pada tanggal 25 Desember, titik balik matahari pada musim dingin menurut kalender Julius.

Perayaan-perayaan kafir itu mulai ”dikristenkan” pada tahun 350, sewaktu Paus Julius I menyatakan 25 Desember sebagai hari kelahiran Kristus. ”Kelahiran Kristus ini perlahan-lahan diterima atau menggantikan semua ritus titik balik matahari lainnya,” kata Encyclopedia of Religion. ”Lambang-lambang matahari semakin digunakan untuk menggambarkan Kristus yang telah dibangkitkan (yang juga disebut Sol Invictus), dan lambang kuno lingkaran matahari . . . menjadi lingkaran cahaya di kepala para santo Kristen.”

Apa kata Alkitab: Alkitab tidak menyebutkan tanggal kelahiran Yesus. Tetapi, kita bisa dengan yakin menyimpulkan bahwa ia tidak lahir pada 25 Desember. Mengapa? Alkitab memberi tahu kita bahwa sewaktu Yesus lahir, para gembala ”tinggal di tempat terbuka” menjaga kawanan mereka pada malam hari di daerah sekitar Betlehem. (Lukas 2:8) Musim hujan yang dingin biasanya dimulai pada bulan Oktober, dan para gembala—khususnya di dataran tinggi yang lebih dingin, misalnya di sekitar Betlehem—memasukkan domba-domba mereka ke dalam kandang pada malam hari agar terlindung. Cuaca paling dingin, yang adakalanya disertai turunnya salju, terjadi pada bulan Desember.

Menarik bahwa orang Kristen masa awal, yang kebanyakan menyertai Yesus selama pelayanannya, tidak pernah merayakan kelahirannya pada tanggal mana pun. Sebaliknya, sesuai dengan perintah Yesus, mereka hanya memperingati kematiannya. (Lukas 22:17-20; 1 Korintus 11:23-26) Namun, ada yang mungkin mengatakan, ’Apakah keterkaitan Natal dengan kekafiran perlu dipersoalkan?’ Jawabannya? Ya, itu hal yang serius bagi Allah. ”Para penyembah yang benar akan menyembah Bapak dengan roh dan kebenaran,” kata Yesus Kristus.—Yohanes 4:23.

Berpautlah pada Ibadat Sejati--natal.

 
Apa yang Alkitab ajarkan tentang pemujaan patung dan leluhur?

Apa pandangan orang Kristen mengenai hari raya agama?

Bagaimana caranya menjelaskan kepercayaan Anda tanpa menyinggung perasaan orang?

KATAKANLAH Anda baru saja tahu bahwa seluruh lingkungan tempat tinggal Anda telah tercemar. Seseorang diam-diam telah membuang limbah beracun di daerah itu, dan sekarang kehidupan semua orang terancam bahaya. Apa yang akan Anda lakukan? Sebisa mungkin, Anda tentu akan pindah dari sana. Tetapi, setelah itu, Anda masih dihantui pertanyaan penting, ’Apakah saya sudah terkena racun?’

2 Demikian pula keadaannya dengan agama palsu. Alkitab mengajarkan bahwa agama seperti itu sudah tercemar dengan ajaran dan cara beribadat yang najis. (2 Korintus 6:17) Itulah sebabnya mengapa begitu penting untuk keluar dari ”Babilon Besar”, imperium agama palsu sedunia. (Penyingkapan 18:2, 4) Sudahkah Anda melakukannya? Jika sudah, Anda patut dipuji. Tetapi, ada lagi yang dituntut selain memutuskan hubungan dengan agama palsu. Anda selanjutnya harus bertanya kepada diri sendiri, ’Apakah masih ada sisa-sisa agama palsu yang mencemari diri saya?’ Pertimbangkan beberapa contoh.

Berbagai Perayaan yang Tidak Menyenangkan Allah


”Teruslah pastikan apa yang diperkenan Tuan.”—EFESUS 5:10.

”PARA penyembah yang benar,” kata Yesus, ”akan menyembah Bapak dengan roh dan kebenaran, karena, sesungguhnya, Bapak mencari orang-orang yang seperti itu supaya mereka menyembah dia.” (Yohanes 4:23) Pada waktu Yehuwa menemukan orang-orang seperti itu—sebagaimana Ia menemukan Saudara—Ia menarik mereka kepada-Nya dan kepada Putra-Nya. (Yohanes 6:44) Benar-benar suatu kehormatan! Tetapi, para pencinta kebenaran Alkitab harus ’terus memastikan apa yang diperkenan Tuan’, sebab Setan adalah penipu ulung.—Efesus 5:10; Penyingkapan 12:9.

2 Perhatikan apa yang terjadi di dekat Gunung Sinai ketika orang Israel meminta Harun membuatkan suatu allah untuk mereka. Harun dengan berat hati menuruti keinginan mereka, lalu membuat sebuah anak lembu emas tetapi dia secara tidak langsung menyatakan bahwa patung itu melambangkan Yehuwa. ”Besok ada perayaan bagi Yehuwa,” katanya. Apakah Yehuwa bersikap masa bodoh terhadap peleburan agama yang sejati dengan yang palsu? Tidak. Atas perintah-Nya, kira-kira tiga ribu penyembah berhala dibunuh. (Keluaran 32:1-6, 10, 28) Hikmahnya? Jika kita ingin tetap berada dalam kasih Allah, kita tidak boleh ”menyentuh apa pun yang najis” dan harus dengan sungguh-sungguh menjaga kebenaran tetap bersih dari unsur apa pun yang bersifat merusak.—Yesaya 52:11; Yehezkiel 44:23; Galatia 5:9.

Tebusan

TEBUSAN


Harga yang dibayarkan untuk membeli kembali atau membebaskan dari suatu kewajiban atau keadaan yang tidak diinginkan. Gagasan dasar ”tebusan” adalah harga yang menutup (seperti pembayaran untuk menutup kerugian atau untuk memenuhi keadilan), sedangkan ”penebusan” menandaskan pembebasan sebagai hasil tebusan yang dibayarkan. Harga tebusan yang paling penting ialah darah Yesus Kristus yang dicurahkan, yang memungkinkan keturunan Adam dibebaskan dari dosa dan kematian.



Berbagai kata Ibrani dan Yunani yang diterjemahkan menjadi ”tebusan” dan ”menebus” memiliki persamaan intrinsik, yaitu gagasan bahwa suatu harga, atau sesuatu yang bernilai, diberikan untuk menebus atau membebaskan. Gagasan tentang pertukaran, maupun kesepadanan, kesamaan nilai, atau penggantian, umumnya terkandung dalam semua kata tersebut. Maksudnya, satu hal diberikan sebagai pengganti hal lain, sehingga memenuhi tuntutan keadilan dan menghasilkan keseimbangan.—Lihat RUKUN, MERUKUNKAN.

Harga yang Menutup. Kata benda Ibrani kofer berasal dari kata kerja ka·far, yang pada dasarnya berarti ”menutupi”, seperti halnya Nuh menutupi bahtera dengan ter. (Kej 6:14) Namun, ka·far hampir selalu digunakan untuk menggambarkan dipenuhinya keadilan dengan menutup atau mengadakan pendamaian bagi dosa. Kata benda kofer menunjuk ke sesuatu yang diberikan agar hal itu terlaksana, harga tebusannya. (Mz 65:3; 78:38; 79:8, 9) Penutup selalu sepadan dengan apa yang ditutupnya, baik bentuknya (seperti halnya tutup harfiah, contohnya ”tutup [kap·poreth]” tabut perjanjian; Kel 25:17-22), ataupun nilainya (seperti dalam pembayaran untuk menutup kerugian karena perbuatan salah).

Rabu, 20 November 2013

BAGAN TANGGAL-TANGGAL SEJARAH YANG PENTING Alkitab.


BAGAN TANGGAL-TANGGAL SEJARAH YANG PENTING

Singkatan-singkatan: s. untuk ”sesudah”; sb. untuk ”sebelum”; ± untuk ”kira-kira.”

Tanggal                Peristiwa               Acuan

4026 S.M.       Adam diciptakan                Kej. 2:7

s. 4026 S.M.    Perjanjian di Eden dibuat,     Kej. 3:15

                 nubuat pertama

sb. 3896 S.M.   Kain membunuh Habel            Kej. 4:8

3896 S.M.       Kelahiran Set                  Kej. 5:3

3404 S.M.       Kelahiran Henokh yang benar    Kej. 5:18

3339 S.M.       Kelahiran Metusalah            Kej. 5:21

3152 S.M.       Kelahiran Lamekh               Kej. 5:25

3096 S.M.       Kematian Adam                  Kej. 5:5

3039 S.M.       Henokh digaibkan; akhir masa   Kej. 5:23, 24;

                 ia bernubuat                   Yud. 14

2970 S.M.       Kelahiran Nuh                  Kej. 5:28, 29

2490 S.M.       Pernyataan hukuman Allah atas  Kej. 6:3

                 umat manusia

Bagan tanggal2 sejarah yg penting Alkitab.

BAGAN TANGGAL-TANGGAL SEJARAH YANG PENTING

Singkatan-singkatan: s. untuk ”sesudah”; sb. untuk ”sebelum”; ± untuk ”kira-kira.”



Tanggal Peristiwa Acuan

4026 S.M. Adam diciptakan Kej. 2:7

s. 4026 S.M. Perjanjian di Eden dibuat, Kej. 3:15

nubuat pertama



sb. 3896 S.M. Kain membunuh Habel Kej. 4:8

3896 S.M. Kelahiran Set Kej. 5:3

3404 S.M. Kelahiran Henokh yang benar Kej. 5:18

3339 S.M. Kelahiran Metusalah Kej. 5:21

3152 S.M. Kelahiran Lamekh Kej. 5:25

3096 S.M. Kematian Adam Kej. 5:5

3039 S.M. Henokh digaibkan; akhir masa Kej. 5:23, 24;

ia bernubuat Yud. 14



2970 S.M. Kelahiran Nuh Kej. 5:28, 29

2490 S.M. Pernyataan hukuman Allah atas Kej. 6:3

umat manusia

Menetapkan Tanggal Peristiwa-Peristiwa Dalam Arus Waktu ke 2


[Pertanyaan Pelajaran]

 1. (a) Apa yang menunjukkan bahwa Yehuwa dengan saksama berpegang kepada waktu? (b) Kemajuan apa yang telah dibuat dalam pengertian mengenai kronologi Alkitab?

 2. Berikan satu contoh caranya menghitung dengan angka ordinal.

 3. (a) Arsip-arsip Negara apa menolong kita untuk menentukan tanggal-tanggal Alkitab? (b) Apa gerangan tahun memerintah dan apa yang dimaksud dengan tahun naik takhta?

 4. Perlihatkan bagaimana kronologi Alkitab dapat dihitung berdasarkan tahun-tahun memerintah.

 5. Bagaimana tanggal pemulihan ibadat kepada Yehuwa di Yerusalem ditetapkan?

 6. (a) Masa nubuat apa berakhir pada musim gugur tahun 537 S.M.? (b) Kapan masa itu mulai berjalan, dan bagaimana fakta-fakta mendukung hal ini?

 7. (a) Bagaimana kita dapat menghitung mundur tahun-tahun sampai kepada perpecahan kerajaan setelah kematian Salomo? (b) Bagaimana hal ini didukung oleh nubuat Yehezkiel?

Menetapkan Tanggal Peristiwa-Peristiwa Dalam Arus Waktu


Pelajaran tentang Kitab-Kitab yang Terilham serta Latar Belakangnya

Pelajaran Nomor 3—Menetapkan Tanggal Peristiwa-Peristiwa Dalam Arus Waktu


Menghitung Waktu menurut Alkitab dan pembahasan tentang kronologi dari peristiwa-peristiwa utama dalam Kitab-Kitab Ibrani dan Yunani.

KETIKA Daniel mendapat penglihatan mengenai ’raja utara’ dan ’raja selatan,’ malaikat Yehuwa beberapa kali mengucapkan perkataan ”waktu yang ditetapkan.” (Dan. 11:6, 27, 29, 35) Ada banyak ayat lain juga yang menunjukkan bahwa Yehuwa sangat cermat dalam menetapkan waktu dan Ia melaksanakan maksud-tujuan-Nya tepat pada waktunya. (Luk. 21:24; 1 Tes. 5:1, 2) Di dalam Firman-Nya, yaitu Alkitab, Ia telah menyediakan sejumlah ”pedoman” yang membantu kita untuk mengetahui kapan terjadinya peristiwa-peristiwa penting dalam arus waktu. Banyak kemajuan telah dibuat dalam pemahaman kronologi Alkitab. Penyelidikan oleh para arkeolog dan yang lainnya terus memperjelas berbagai masalah, sehingga memungkinkan kita menentukan tanggal-tanggal terjadinya peristiwa-peristiwa penting yang dicatat dalam Alkitab.—Ams. 4:18.

Senin, 18 November 2013

Diraibkan.




Definisi: Kepercayaan bahwa orang Kristen yang setia akan diangkat hidup-hidup dari bumi, tiba-tiba diambil dari dunia, untuk dipersatukan dengan Tuan ”di udara”. Istilah ”diraibkan” dimengerti oleh beberapa orang, tetapi tidak semua orang, sebagai makna 1 Tesalonika 4:17. Istilah ”diraibkan” tidak ada dalam Tulisan-Tulisan Kudus yang terilham.

Ketika rasul Paulus mengatakan bahwa umat Kristen akan ”diangkat” untuk berada bersama-sama dengan Tuan, pokok apa yang sedang dibahas?

1 Tes. 4:13-18, RS: ”Kami tidak ingin kamu kurang pengetahuan, saudara-saudara, tentang orang-orang yang tidur [”mereka yang tidur dalam kematian”, NE; ”mereka yang meninggal”, TB; BIS], agar kamu tidak berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai harapan. Sebab jika kita beriman bahwa Yesus telah mati dan bangkit kembali, maka melalui Yesus, orang-orang yang telah tidur juga akan dibawa oleh Allah bersama dia. Sebab inilah yang kami beri tahukan kepadamu melalui firman Tuhan, bahwa kita yang hidup, yang masih akan hidup sampai kedatangan Tuhan, tidak akan mendahului mereka yang telah tidur. Karena Tuhan sendiri akan turun dari surga dengan seruan yang kuat, dengan seruan malaikat dan dengan bunyi terompet Allah. Dan mereka yang sudah mati dalam Kristus akan bangkit lebih dahulu; setelah itu kita yang hidup, yang masih tetap hidup, akan diangkat dalam awan-awan bersama mereka untuk menemui Tuhan di udara; dan dengan demikian kita akan selalu bersama Tuhan. Karena itu teruslah hibur satu sama lain dengan kata-kata ini.” (Rupanya, ada anggota-anggota sidang Kristen di Tesalonika yang sudah meninggal. Paulus menganjurkan mereka yang masih hidup untuk saling menghibur dengan harapan kebangkitan. Ia mengingatkan mereka bahwa Yesus dibangkitkan setelah Ia mati; maka demikian juga, pada waktu kedatangan Tuan, umat Kristen yang setia dari antara mereka yang telah meninggal akan dibangkitkan untuk berada bersama-sama Kristus.)

Surga.




Definisi: Tempat kediaman Allah Yehuwa dan makhluk-makhluk roh yang setia; suatu alam yang tidak terlihat oleh mata manusia. Alkitab juga menggunakan istilah ”surga” dalam berbagai macam arti yang lain; misalnya: untuk menunjukkan Allah sendiri, organisasi-Nya yang terdiri dari makhluk-makhluk roh yang setia, suatu kedudukan perkenan ilahi, dan pemerintahan surgawi yang baru dan benar di bawah Yesus Kristus dan ahli-ahli waris lain bersamanya yang diberi kuasa oleh Yehuwa untuk memerintah.

Apakah kita sudah ada di alam roh sebelum dilahirkan sebagai manusia?

Yoh. 8:23: ”[Yesus Kristus berkata,] ’Kamu dari alam di bawah; aku dari alam di atas. Kamu dari dunia ini; aku bukan dari dunia ini.’” (Yesus memang datang dari alam roh. Namun, seperti Yesus katakan, orang lain tidak.)

Rm. 9:10-12: ”Ribka mengandung anak kembar . . . Sewaktu mereka belum dilahirkan ataupun mempraktekkan apa pun yang baik atau keji, supaya maksud-tujuan Allah berkenaan dengan pemilihan tetap bergantung, bukan pada perbuatan, tetapi pada Pribadi yang memanggil, kepada Ribka dikatakan, ’Yang lebih tua akan menjadi budak dari yang lebih muda.’” (Jika Yakub dan Esau yang kembar sebelumnya sudah hidup di alam roh, mereka tentu sudah mempunyai catatan mengenai perbuatan mereka di sana, bukan? Namun, mereka tidak mempunyai catatan seperti itu sampai mereka lahir sebagai manusia.)

LANGIT DAN SURGA

 

Kata Ibrani sya·mayim (selalu jamak), yang diterjemahkan menjadi ”langit” atau ”surga”, tampaknya memiliki makna dasar tentang sesuatu yang tinggi atau mulia. (Kej 24:3; Mz 2:4; 103:11; Ams 25:3; Yes 55:9) Etimologi kata Yunani untuk langit dan surga (ou·ra·nos) tidak dapat dipastikan.



Langit. Cakupan makna langit secara keseluruhan terdapat dalam istilah bahasa aslinya. Konteks biasanya menyediakan keterangan yang cukup untuk menentukan bagian mana dari langit yang dimaksud.

Langit berupa atmosfer bumi. ”Langit” dapat memaksudkan seluruh atmosfer bumi; di sini embun dan embun beku terbentuk (Kej 27:28; Ayb 38:29), burung-burung terbang (Ul 4:17; Ams 30:19; Mat 6:26), angin berembus (Mz 78:26), kilat berkilau (Luk 17:24), dan awan melayang serta menurunkan hujan, salju, atau hujan batu (Yos 10:11; 1Raj 18:45; Yes 55:10; Kis 14:17). ”Langit” adakalanya memaksudkan kubah atau lengkungan yang tampak seolah-olah melingkungi bumi.—Mat 16:1-3; Kis 1:10, 11.

Daerah di atmosfer ini biasanya disamakan dengan ”angkasa” [Ibr., ra·qiaʽ]” yang dibentuk pada periode kedua penciptaan, sebagaimana diuraikan di Kejadian 1:6-8. Tampaknya, ”langit” inilah yang dimaksud dalam Kejadian 2:4; Keluaran 20:11; 31:17 sewaktu mengisahkan penciptaan ”langit dan bumi”.—Lihat ANGKASA.

Kamis, 14 November 2013

Gehena

 


[bentuk Yn. dari kata Ibr. Geh Hin·nom, ”Lembah Hinom”].

Nama ini muncul 12 kali dalam Kitab-Kitab Yunani Kristen, dan meskipun banyak penerjemah mengalihbahasakannya secara bebas dengan kata ”neraka”, sejumlah terjemahan modern mentransliterasi kata tersebut dari kata Yunani geen·na.—Mat 5:22, Ro, Mo, ED, NW, BC (Spanyol), NC (Spanyol), juga catatan kaki Da dan RS.



Lembah Hinom yang dalam dan sempit, yang belakangan dikenal dengan nama Yunani ini, terletak di sebelah selatan dan barat daya Yerusalem kuno dan sekarang adalah Wadi er-Rababi (Ge Ben Hinnom). (Yos 15:8; 18:16; Yer 19:2, 6; lihat HINOM, LEMBAH.) Raja Ahaz dan Raja Manasye dari Yehuda melakukan penyembahan berhala di sana, yang mencakup pembakaran manusia sebagai korban kepada Baal. (2Taw 28:1, 3; 33:1, 6; Yer 7:31, 32; 32:35) Belakangan, agar kegiatan semacam itu tidak lagi dilakukan di sana, Raja Yosia yang setia menajiskan tempat penyembahan berhala tersebut, khususnya bagian yang disebut Tofet.—2Raj 23:10.

Rabu, 13 November 2013

Hades

 

 

Kata ini adalah transliterasi yang umum ke dalam bahasa Indonesia dari padanan Yunaninya, haides. Artinya mungkin ”tempat yang tidak kelihatan”. Secara keseluruhan, kata ”Hades” muncul sepuluh kali dalam manuskrip-manuskrip paling awal Kitab-Kitab Yunani Kristen.—Mat 11:23; 16:18; Luk 10:15; 16:23; Kis 2:27, 31; Pny 1:18; 6:8; 20:13, 14.

King James Version menerjemahkan haides sebagai ”neraka” dalam ayat-ayat tersebut, tetapi Revised Standard Version menerjemahkannya ”Hades”, kecuali di Matius 16:18 yang menggunakan ungkapan ”kuasa kematian”, meskipun catatan kakinya berbunyi ”gerbang-gerbang Hades”. Banyak terjemahan modern menggunakan kata ”Hades” dan bukannya ”neraka”.

Kitab-Kitab Ibrani (dari Kejadian sampai Maleakhi) terjemahan Septuaginta Yunani menggunakan kata ”Hades” 73 kali; 60 kali di antaranya untuk menerjemahkan kata Ibrani syeʼohl, yang umumnya ditransliterasi menjadi ”Syeol”. Lukas, yang diilhami Allah untuk menulis buku Kisah, dengan jelas memperlihatkan bahwa Hades adalah padanan kata Yunani untuk Syeol sewaktu ia menerjemahkan kutipan Petrus dari Mazmur 16:10. (Kis 2:27) Kebalikannya, dalam sembilan terjemahan Ibrani modern dari Kitab-Kitab Yunani Kristen, kata ”Syeol” digunakan untuk menerjemahkan kata Hades di Penyingkapan 20:13, 14; dan terjemahan Siria menggunakan kata yang terkait, Syiul.

Neraka—Siksaan Kekal atau Kuburan Umum?

 

APAKAH saudara telah diberi tahu bahwa Bapa-Bapa Gereja masa awal, teolog-teolog abad pertengahan dan para Reformis menyatakan bahwa siksaan yang dialami di neraka bersifat kekal? Jika demikian, mungkin saudara akan terkejut bila mengetahui bahwa beberapa sarjana Alkitab yang sangat terpandang sekarang sedang menantang pandangan itu. Di Inggris, salah seorang dari antara mereka, John R. W. Stott, menulis bahwa ”Alkitab menunjuk ke arah pembinasaan, dan bahwa ’siksaan kekal secara sadar’ adalah suatu tradisi yang harus tunduk kepada wewenang tertinggi dari Alkitab.”—Essentials—A Liberal-Evangelical Dialogue.

Apa yang membuatnya menyimpulkan bahwa ajaran siksaan kekal tidak berdasarkan Alkitab?

Pelajaran Bahasa

Argumen pertamanya menyangkut bahasa. Ia menjelaskan bahwa bila Alkitab menunjuk kepada akhir dari keadaan terkutuk (”Gehena”; lihat kotak, halaman 8), buku itu sering menggunakan kosa kata ”pembinasaan”, dalam bahasa Yunani ”kata kerjanya adalah apollumi (membinasakan) dan kata bendanya adalah apòleia (pembinasaan)”. Apakah kata-kata ini mengacu kepada siksaan? Stott menjelaskan bahwa bila kata kerjanya bersifat aktif dan transitif, ”apollumi” berarti ”membunuh”. (Matius 2:13; 12:14; 21:41) Jadi, di Matius 10:28, yang dalam King James Version disebutkan bahwa Allah membinasakan ”jiwa maupun tubuh di dalam neraka”, gagasan yang terkandung adalah kebinasaan dalam kematian, bukan siksaan kekal. Di Matius 7:13, 14, Yesus membandingkan ”sesaklah . . . jalan yang menuju kepada kehidupan” dengan ”lebarlah . . . jalan yang menuju kepada kebinasaan”. Stott berkomentar, ”Oleh karena itu, akan tampak aneh jika orang-orang yang dikatakan mengalami kebinasaan ternyata tidak binasa.” Dengan alasan yang dapat dibenarkan, ia mencapai kesimpulan, ”Jika membunuh adalah mencabut kehidupan dari tubuh, maka neraka tampaknya berarti pencabutan kehidupan fisik maupun rohani, yaitu, menjadi tidak ada.”—Essentials, halaman 315-16.

Apa yang Yesus Ajarkan tentang Kerajaan Allah

 
”Ia mengadakan perjalanan dari kota ke kota dan dari desa ke desa, memberitakan . . . kabar baik tentang kerajaan Allah.”—LUKAS 8:1.

KITA senang berbicara tentang hal-hal yang penting bagi kita, yang dekat di hati kita. Sebagaimana Yesus sendiri katakan, ”dari kelimpahan hatilah mulut berbicara”. (Matius 12:34) Berdasarkan apa yang Yesus bicarakan selama pelayanannya, dapat disimpulkan bahwa Kerajaan Allah dekat di hatinya.

Apa Kerajaan Allah itu? Kerajaan adalah pemerintahan yang dikuasai seorang raja. Jadi, Kerajaan Allah adalah pemerintahan yang didirikan oleh Allah. Yesus berbicara panjang lebar tentang Kerajaan Allah, menjadikan itu tema beritanya. Ada lebih dari 110 kali Kerajaan itu disebutkan dalam keempat Injil. Tetapi, Yesus tidak mengajar dengan kata-kata saja. Berbagai tindakannya juga mengajarkan banyak hal tentang Kerajaan Allah dan apa yang bakal dilakukannya.

Siapa Rajanya? Raja Kerajaan Allah tidak dipilih oleh manusia melalui pemilu. Sebaliknya, Penguasa ini dipilih oleh Allah sendiri. Dalam pengajarannya, Yesus menyingkapkan bahwa dialah yang dipilih oleh Allah untuk menjadi Raja.

Yesus tahu bahwa nubuat-nubuat Alkitab telah memberi tahu di muka bahwa Mesias yang dijanjikan akan memerintah atas suatu Kerajaan yang kekal. (2 Samuel 7:12-14; Daniel 7:13, 14; Matius 26:63, 64) Ingatlah, Yesus terus terang menyatakan dirinya sebagai Mesias yang dinubuatkan. Dengan demikian, Yesus mengakui bahwa ia adalah Raja yang dilantik oleh Allah. (Yohanes 4:25, 26) Maka, tepatlah bahwa ia beberapa kali menggunakan istilah ”kerajaanku”.—Yohanes 18:36.

Yesus juga mengajarkan bahwa ada orang-orang lain yang akan memerintah bersama dia dalam Kerajaan itu. (Lukas 22:28-30) Ia menyebut para rekan penguasa ini ”kawanan kecil”, karena jumlah mereka terbatas. Ia berkata tentang mereka, ”Bapakmu telah berkenan memberikan kerajaan itu kepadamu.” (Lukas 12:32) Buku terakhir dalam Alkitab menunjukkan bahwa akan ada sejumlah 144.000 orang yang mendapat hak istimewa memerintah bersama Kristus.—Penyingkapan (Wahyu) 5:9, 10; 14:1.

Selasa, 12 November 2013

ALLAH

 


Apa pun yang disembah dapat disebut allah atau dewa, karena si penyembah mengakuinya sebagai sesuatu yang lebih perkasa daripada dirinya dan ia memujanya. Seseorang bahkan dapat menjadikan perutnya sebagai allah. (Rm 16:18; Flp 3:18, 19) Alkitab menyebutkan bahwa ada banyak allah (Mz 86:8; 1Kor 8:5, 6), tetapi memperlihatkan bahwa allah-allah berbagai bangsa tidak ada nilainya.—Mz 96:5; lihat DEWA DAN DEWI.

Kata-Kata Ibrani. Kata Ibrani yang diterjemahkan ”Allah” antara lain ialah ʼEl, yang mungkin berarti ”Yang Perkasa; Yang Kuat”. (Kej 14:18) Kata itu digunakan untuk memaksudkan Yehuwa, allah-allah lain, dan manusia. Kata itu juga digunakan secara luas sebagai bagian dari nama pribadi, seperti Elisa (yang berarti ”Allah Adalah Keselamatan”) dan Mikhael (”Siapa Seperti Allah?”). Di beberapa ayat, ʼEl muncul dengan kata sandang tentu (ha·ʼEl, harfiah, ”Allah” [bhs. Ing., the God]) untuk memaksudkan Yehuwa, dengan demikian membedakan Dia dari allah-allah lain.—Kej 46:3; 2Sam 22:31; lihat Rbi8, Apendiks 1F dan 1G.

Dalam nubuat di Yesaya 9:6, Yesus Kristus disebut sebagai ʼEl Gib·bohr, ”Allah yang Perkasa” (bukan ʼEl Syad·dai [Allah Yang Mahakuasa], yang ditujukan kepada Yehuwa di Kejadian 17:1).

Bentuk jamak, ʼe·lim, digunakan apabila memaksudkan allah-allah lain, seperti di Keluaran 15:11 (”allah-allah”). Ini juga digunakan sebagai bentuk jamak yang menyatakan keagungan dan keunggulan, seperti di Mazmur 89:6, ”Siapakah yang dapat menyamai Yehuwa di antara putra-putra Allah [bi·veneh ʼE·lim]?” Di ayat ini dan di sejumlah ayat lain, bentuk jamak digunakan untuk menyatakan satu pribadi tunggal, dan ini didukung oleh fakta bahwa ʼE·lim diterjemahkan menjadi bentuk tunggal The·os dalam Septuaginta Yunani, maupun Deus dalam Vulgata Latin.

Yesus

 
Nama dan gelar Putra Allah setelah ia diurapi sewaktu berada di bumi.

Nama Yesus (Yn., I·e·sous) sama dengan nama Ibrani Yesyua (atau, bentuk yang lebih lengkapnya, Yehosyua), yang artinya ”Yehuwa Adalah Keselamatan”. Nama itu sendiri tidak istimewa, karena pada masa itu banyak orang memiliki nama tersebut. Itulah sebabnya, sering kali ada penambahan keterangan seperti ”Yesus, orang Nazaret”. (Mrk 10:47; Kis 2:22) Kristus berasal dari kata Yunani Khri·stos, padanan kata Ibrani Ma·syiakh (Mesias), yang artinya ”Orang yang Diurapi”. Sekalipun ungkapan ”orang yang diurapi” cocok untuk diterapkan pada orang-orang sebelum Yesus, seperti Musa, Harun, dan Daud (Ibr 11:24-26; Im 4:3; 8:12; 2Sam 22:51), kedudukan, jabatan, atau dinas yang mereka pegang setelah diurapi hanyalah gambaran pendahuluan dari kedudukan, jabatan, dan dinas yang lebih unggul yang dimiliki Yesus Kristus. Oleh karena itu, dalam arti yang paling unggul dan unik Yesus adalah ”Kristus, Putra dari Allah yang hidup”.—Mat 16:16; lihat KRISTUS; MESIAS.

Eksistensi Pramanusia. Kehidupan pribadi yang kemudian dikenal sebagai Yesus Kristus tidaklah berawal di bumi. Ia sendiri berbicara tentang kehidupan pramanusianya di surga. (Yoh 3:13; 6:38, 62; 8:23, 42, 58) Yohanes 1:1, 2 menyebutkan nama untuk pribadi yang menjadi Yesus ini sewaktu ia berada di surga, ”Pada mulanya Firman [Yn., Logos] itu ada, dan Firman itu bersama Allah, dan Firman itu adalah suatu allah [”ilahi”, AT; Mo; atau ”adalah pribadi ilahi”, Böhmer; Stage (keduanya dalam bhs. Jerman)]. Pribadi ini pada mulanya bersama Allah.” Karena Yehuwa itu kekal dan tidak mempunyai permulaan (Mz 90:2; Pny 15:3), pernyataan bahwa Firman itu bersama Allah sejak ’awal mula’ dalam ayat tersebut pastilah memaksudkan awal mula pekerjaan penciptaan Yehuwa. Hal itu diteguhkan oleh ayat-ayat lain yang mengidentifikasi Yesus sebagai ”yang sulung dari antara semua ciptaan”, ”awal dari ciptaan Allah”. (Kol 1:15; Pny 1:1; 3:14) Oleh karena itu, Tulisan-Tulisan Kudus mengidentifikasi Firman itu (Yesus dalam eksistensi pramanusianya) sebagai ciptaan pertama Allah, Putra sulung-Nya.

YEHUWA



 

[bentuk kausatif imperfek dari kata kerja Ibr., ha·wah′ (menjadi); artinya ”Ia Menyebabkan Menjadi”].


Nama pribadi Allah. (Yes 42:8; 54:5) Meskipun dalam Alkitab Allah disebut dengan berbagai gelar deskriptif, misalnya ”Allah”, ”Tuan Yang Berdaulat”, ”Pencipta”, ”Bapak”, ”Yang Mahakuasa”, dan ”Yang Mahatinggi”, kepribadian serta sifat-sifat-Nya—siapa dan apa sebenarnya Dia—sepenuhnya terangkum dan dinyatakan dalam nama pribadi ini saja.—Mz 83:18.


Pelafalan yang Benar untuk Nama Ilahi. ”Yehuwa” adalah pelafalan nama ilahi yang paling banyak dikenal dalam bahasa Indonesia, meskipun ”Yahweh” lebih disukai oleh kebanyakan pakar bahasa Ibrani. Dalam manuskrip-manuskrip Ibrani tertua, nama itu ditulis dengan empat konsonan, yang umumnya disebut Tetragramaton (dari kata Yunani te·tra-, artinya ”empat”, dan gram′ma, ”huruf”). Keempat huruf itu (ditulis dari kanan ke kiri) adalah יהוה dan transliterasinya dalam bahasa Indonesia adalah YHWH.