Rabu, 20 November 2013

BAGAN TANGGAL-TANGGAL SEJARAH YANG PENTING Alkitab.


BAGAN TANGGAL-TANGGAL SEJARAH YANG PENTING

Singkatan-singkatan: s. untuk ”sesudah”; sb. untuk ”sebelum”; ± untuk ”kira-kira.”

Tanggal                Peristiwa               Acuan

4026 S.M.       Adam diciptakan                Kej. 2:7

s. 4026 S.M.    Perjanjian di Eden dibuat,     Kej. 3:15

                 nubuat pertama

sb. 3896 S.M.   Kain membunuh Habel            Kej. 4:8

3896 S.M.       Kelahiran Set                  Kej. 5:3

3404 S.M.       Kelahiran Henokh yang benar    Kej. 5:18

3339 S.M.       Kelahiran Metusalah            Kej. 5:21

3152 S.M.       Kelahiran Lamekh               Kej. 5:25

3096 S.M.       Kematian Adam                  Kej. 5:5

3039 S.M.       Henokh digaibkan; akhir masa   Kej. 5:23, 24;

                 ia bernubuat                   Yud. 14

2970 S.M.       Kelahiran Nuh                  Kej. 5:28, 29

2490 S.M.       Pernyataan hukuman Allah atas  Kej. 6:3

                 umat manusia

Bagan tanggal2 sejarah yg penting Alkitab.

BAGAN TANGGAL-TANGGAL SEJARAH YANG PENTING

Singkatan-singkatan: s. untuk ”sesudah”; sb. untuk ”sebelum”; ± untuk ”kira-kira.”



Tanggal Peristiwa Acuan

4026 S.M. Adam diciptakan Kej. 2:7

s. 4026 S.M. Perjanjian di Eden dibuat, Kej. 3:15

nubuat pertama



sb. 3896 S.M. Kain membunuh Habel Kej. 4:8

3896 S.M. Kelahiran Set Kej. 5:3

3404 S.M. Kelahiran Henokh yang benar Kej. 5:18

3339 S.M. Kelahiran Metusalah Kej. 5:21

3152 S.M. Kelahiran Lamekh Kej. 5:25

3096 S.M. Kematian Adam Kej. 5:5

3039 S.M. Henokh digaibkan; akhir masa Kej. 5:23, 24;

ia bernubuat Yud. 14



2970 S.M. Kelahiran Nuh Kej. 5:28, 29

2490 S.M. Pernyataan hukuman Allah atas Kej. 6:3

umat manusia

Menetapkan Tanggal Peristiwa-Peristiwa Dalam Arus Waktu ke 2


[Pertanyaan Pelajaran]

 1. (a) Apa yang menunjukkan bahwa Yehuwa dengan saksama berpegang kepada waktu? (b) Kemajuan apa yang telah dibuat dalam pengertian mengenai kronologi Alkitab?

 2. Berikan satu contoh caranya menghitung dengan angka ordinal.

 3. (a) Arsip-arsip Negara apa menolong kita untuk menentukan tanggal-tanggal Alkitab? (b) Apa gerangan tahun memerintah dan apa yang dimaksud dengan tahun naik takhta?

 4. Perlihatkan bagaimana kronologi Alkitab dapat dihitung berdasarkan tahun-tahun memerintah.

 5. Bagaimana tanggal pemulihan ibadat kepada Yehuwa di Yerusalem ditetapkan?

 6. (a) Masa nubuat apa berakhir pada musim gugur tahun 537 S.M.? (b) Kapan masa itu mulai berjalan, dan bagaimana fakta-fakta mendukung hal ini?

 7. (a) Bagaimana kita dapat menghitung mundur tahun-tahun sampai kepada perpecahan kerajaan setelah kematian Salomo? (b) Bagaimana hal ini didukung oleh nubuat Yehezkiel?

Menetapkan Tanggal Peristiwa-Peristiwa Dalam Arus Waktu


Pelajaran tentang Kitab-Kitab yang Terilham serta Latar Belakangnya

Pelajaran Nomor 3—Menetapkan Tanggal Peristiwa-Peristiwa Dalam Arus Waktu


Menghitung Waktu menurut Alkitab dan pembahasan tentang kronologi dari peristiwa-peristiwa utama dalam Kitab-Kitab Ibrani dan Yunani.

KETIKA Daniel mendapat penglihatan mengenai ’raja utara’ dan ’raja selatan,’ malaikat Yehuwa beberapa kali mengucapkan perkataan ”waktu yang ditetapkan.” (Dan. 11:6, 27, 29, 35) Ada banyak ayat lain juga yang menunjukkan bahwa Yehuwa sangat cermat dalam menetapkan waktu dan Ia melaksanakan maksud-tujuan-Nya tepat pada waktunya. (Luk. 21:24; 1 Tes. 5:1, 2) Di dalam Firman-Nya, yaitu Alkitab, Ia telah menyediakan sejumlah ”pedoman” yang membantu kita untuk mengetahui kapan terjadinya peristiwa-peristiwa penting dalam arus waktu. Banyak kemajuan telah dibuat dalam pemahaman kronologi Alkitab. Penyelidikan oleh para arkeolog dan yang lainnya terus memperjelas berbagai masalah, sehingga memungkinkan kita menentukan tanggal-tanggal terjadinya peristiwa-peristiwa penting yang dicatat dalam Alkitab.—Ams. 4:18.

Senin, 18 November 2013

Diraibkan.




Definisi: Kepercayaan bahwa orang Kristen yang setia akan diangkat hidup-hidup dari bumi, tiba-tiba diambil dari dunia, untuk dipersatukan dengan Tuan ”di udara”. Istilah ”diraibkan” dimengerti oleh beberapa orang, tetapi tidak semua orang, sebagai makna 1 Tesalonika 4:17. Istilah ”diraibkan” tidak ada dalam Tulisan-Tulisan Kudus yang terilham.

Ketika rasul Paulus mengatakan bahwa umat Kristen akan ”diangkat” untuk berada bersama-sama dengan Tuan, pokok apa yang sedang dibahas?

1 Tes. 4:13-18, RS: ”Kami tidak ingin kamu kurang pengetahuan, saudara-saudara, tentang orang-orang yang tidur [”mereka yang tidur dalam kematian”, NE; ”mereka yang meninggal”, TB; BIS], agar kamu tidak berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai harapan. Sebab jika kita beriman bahwa Yesus telah mati dan bangkit kembali, maka melalui Yesus, orang-orang yang telah tidur juga akan dibawa oleh Allah bersama dia. Sebab inilah yang kami beri tahukan kepadamu melalui firman Tuhan, bahwa kita yang hidup, yang masih akan hidup sampai kedatangan Tuhan, tidak akan mendahului mereka yang telah tidur. Karena Tuhan sendiri akan turun dari surga dengan seruan yang kuat, dengan seruan malaikat dan dengan bunyi terompet Allah. Dan mereka yang sudah mati dalam Kristus akan bangkit lebih dahulu; setelah itu kita yang hidup, yang masih tetap hidup, akan diangkat dalam awan-awan bersama mereka untuk menemui Tuhan di udara; dan dengan demikian kita akan selalu bersama Tuhan. Karena itu teruslah hibur satu sama lain dengan kata-kata ini.” (Rupanya, ada anggota-anggota sidang Kristen di Tesalonika yang sudah meninggal. Paulus menganjurkan mereka yang masih hidup untuk saling menghibur dengan harapan kebangkitan. Ia mengingatkan mereka bahwa Yesus dibangkitkan setelah Ia mati; maka demikian juga, pada waktu kedatangan Tuan, umat Kristen yang setia dari antara mereka yang telah meninggal akan dibangkitkan untuk berada bersama-sama Kristus.)

Surga.




Definisi: Tempat kediaman Allah Yehuwa dan makhluk-makhluk roh yang setia; suatu alam yang tidak terlihat oleh mata manusia. Alkitab juga menggunakan istilah ”surga” dalam berbagai macam arti yang lain; misalnya: untuk menunjukkan Allah sendiri, organisasi-Nya yang terdiri dari makhluk-makhluk roh yang setia, suatu kedudukan perkenan ilahi, dan pemerintahan surgawi yang baru dan benar di bawah Yesus Kristus dan ahli-ahli waris lain bersamanya yang diberi kuasa oleh Yehuwa untuk memerintah.

Apakah kita sudah ada di alam roh sebelum dilahirkan sebagai manusia?

Yoh. 8:23: ”[Yesus Kristus berkata,] ’Kamu dari alam di bawah; aku dari alam di atas. Kamu dari dunia ini; aku bukan dari dunia ini.’” (Yesus memang datang dari alam roh. Namun, seperti Yesus katakan, orang lain tidak.)

Rm. 9:10-12: ”Ribka mengandung anak kembar . . . Sewaktu mereka belum dilahirkan ataupun mempraktekkan apa pun yang baik atau keji, supaya maksud-tujuan Allah berkenaan dengan pemilihan tetap bergantung, bukan pada perbuatan, tetapi pada Pribadi yang memanggil, kepada Ribka dikatakan, ’Yang lebih tua akan menjadi budak dari yang lebih muda.’” (Jika Yakub dan Esau yang kembar sebelumnya sudah hidup di alam roh, mereka tentu sudah mempunyai catatan mengenai perbuatan mereka di sana, bukan? Namun, mereka tidak mempunyai catatan seperti itu sampai mereka lahir sebagai manusia.)

LANGIT DAN SURGA

 

Kata Ibrani sya·mayim (selalu jamak), yang diterjemahkan menjadi ”langit” atau ”surga”, tampaknya memiliki makna dasar tentang sesuatu yang tinggi atau mulia. (Kej 24:3; Mz 2:4; 103:11; Ams 25:3; Yes 55:9) Etimologi kata Yunani untuk langit dan surga (ou·ra·nos) tidak dapat dipastikan.



Langit. Cakupan makna langit secara keseluruhan terdapat dalam istilah bahasa aslinya. Konteks biasanya menyediakan keterangan yang cukup untuk menentukan bagian mana dari langit yang dimaksud.

Langit berupa atmosfer bumi. ”Langit” dapat memaksudkan seluruh atmosfer bumi; di sini embun dan embun beku terbentuk (Kej 27:28; Ayb 38:29), burung-burung terbang (Ul 4:17; Ams 30:19; Mat 6:26), angin berembus (Mz 78:26), kilat berkilau (Luk 17:24), dan awan melayang serta menurunkan hujan, salju, atau hujan batu (Yos 10:11; 1Raj 18:45; Yes 55:10; Kis 14:17). ”Langit” adakalanya memaksudkan kubah atau lengkungan yang tampak seolah-olah melingkungi bumi.—Mat 16:1-3; Kis 1:10, 11.

Daerah di atmosfer ini biasanya disamakan dengan ”angkasa” [Ibr., ra·qiaʽ]” yang dibentuk pada periode kedua penciptaan, sebagaimana diuraikan di Kejadian 1:6-8. Tampaknya, ”langit” inilah yang dimaksud dalam Kejadian 2:4; Keluaran 20:11; 31:17 sewaktu mengisahkan penciptaan ”langit dan bumi”.—Lihat ANGKASA.

Kamis, 14 November 2013

Gehena

 


[bentuk Yn. dari kata Ibr. Geh Hin·nom, ”Lembah Hinom”].

Nama ini muncul 12 kali dalam Kitab-Kitab Yunani Kristen, dan meskipun banyak penerjemah mengalihbahasakannya secara bebas dengan kata ”neraka”, sejumlah terjemahan modern mentransliterasi kata tersebut dari kata Yunani geen·na.—Mat 5:22, Ro, Mo, ED, NW, BC (Spanyol), NC (Spanyol), juga catatan kaki Da dan RS.



Lembah Hinom yang dalam dan sempit, yang belakangan dikenal dengan nama Yunani ini, terletak di sebelah selatan dan barat daya Yerusalem kuno dan sekarang adalah Wadi er-Rababi (Ge Ben Hinnom). (Yos 15:8; 18:16; Yer 19:2, 6; lihat HINOM, LEMBAH.) Raja Ahaz dan Raja Manasye dari Yehuda melakukan penyembahan berhala di sana, yang mencakup pembakaran manusia sebagai korban kepada Baal. (2Taw 28:1, 3; 33:1, 6; Yer 7:31, 32; 32:35) Belakangan, agar kegiatan semacam itu tidak lagi dilakukan di sana, Raja Yosia yang setia menajiskan tempat penyembahan berhala tersebut, khususnya bagian yang disebut Tofet.—2Raj 23:10.

Rabu, 13 November 2013

Hades

 

 

Kata ini adalah transliterasi yang umum ke dalam bahasa Indonesia dari padanan Yunaninya, haides. Artinya mungkin ”tempat yang tidak kelihatan”. Secara keseluruhan, kata ”Hades” muncul sepuluh kali dalam manuskrip-manuskrip paling awal Kitab-Kitab Yunani Kristen.—Mat 11:23; 16:18; Luk 10:15; 16:23; Kis 2:27, 31; Pny 1:18; 6:8; 20:13, 14.

King James Version menerjemahkan haides sebagai ”neraka” dalam ayat-ayat tersebut, tetapi Revised Standard Version menerjemahkannya ”Hades”, kecuali di Matius 16:18 yang menggunakan ungkapan ”kuasa kematian”, meskipun catatan kakinya berbunyi ”gerbang-gerbang Hades”. Banyak terjemahan modern menggunakan kata ”Hades” dan bukannya ”neraka”.

Kitab-Kitab Ibrani (dari Kejadian sampai Maleakhi) terjemahan Septuaginta Yunani menggunakan kata ”Hades” 73 kali; 60 kali di antaranya untuk menerjemahkan kata Ibrani syeʼohl, yang umumnya ditransliterasi menjadi ”Syeol”. Lukas, yang diilhami Allah untuk menulis buku Kisah, dengan jelas memperlihatkan bahwa Hades adalah padanan kata Yunani untuk Syeol sewaktu ia menerjemahkan kutipan Petrus dari Mazmur 16:10. (Kis 2:27) Kebalikannya, dalam sembilan terjemahan Ibrani modern dari Kitab-Kitab Yunani Kristen, kata ”Syeol” digunakan untuk menerjemahkan kata Hades di Penyingkapan 20:13, 14; dan terjemahan Siria menggunakan kata yang terkait, Syiul.

Neraka—Siksaan Kekal atau Kuburan Umum?

 

APAKAH saudara telah diberi tahu bahwa Bapa-Bapa Gereja masa awal, teolog-teolog abad pertengahan dan para Reformis menyatakan bahwa siksaan yang dialami di neraka bersifat kekal? Jika demikian, mungkin saudara akan terkejut bila mengetahui bahwa beberapa sarjana Alkitab yang sangat terpandang sekarang sedang menantang pandangan itu. Di Inggris, salah seorang dari antara mereka, John R. W. Stott, menulis bahwa ”Alkitab menunjuk ke arah pembinasaan, dan bahwa ’siksaan kekal secara sadar’ adalah suatu tradisi yang harus tunduk kepada wewenang tertinggi dari Alkitab.”—Essentials—A Liberal-Evangelical Dialogue.

Apa yang membuatnya menyimpulkan bahwa ajaran siksaan kekal tidak berdasarkan Alkitab?

Pelajaran Bahasa

Argumen pertamanya menyangkut bahasa. Ia menjelaskan bahwa bila Alkitab menunjuk kepada akhir dari keadaan terkutuk (”Gehena”; lihat kotak, halaman 8), buku itu sering menggunakan kosa kata ”pembinasaan”, dalam bahasa Yunani ”kata kerjanya adalah apollumi (membinasakan) dan kata bendanya adalah apòleia (pembinasaan)”. Apakah kata-kata ini mengacu kepada siksaan? Stott menjelaskan bahwa bila kata kerjanya bersifat aktif dan transitif, ”apollumi” berarti ”membunuh”. (Matius 2:13; 12:14; 21:41) Jadi, di Matius 10:28, yang dalam King James Version disebutkan bahwa Allah membinasakan ”jiwa maupun tubuh di dalam neraka”, gagasan yang terkandung adalah kebinasaan dalam kematian, bukan siksaan kekal. Di Matius 7:13, 14, Yesus membandingkan ”sesaklah . . . jalan yang menuju kepada kehidupan” dengan ”lebarlah . . . jalan yang menuju kepada kebinasaan”. Stott berkomentar, ”Oleh karena itu, akan tampak aneh jika orang-orang yang dikatakan mengalami kebinasaan ternyata tidak binasa.” Dengan alasan yang dapat dibenarkan, ia mencapai kesimpulan, ”Jika membunuh adalah mencabut kehidupan dari tubuh, maka neraka tampaknya berarti pencabutan kehidupan fisik maupun rohani, yaitu, menjadi tidak ada.”—Essentials, halaman 315-16.

Apa yang Yesus Ajarkan tentang Kerajaan Allah

 
”Ia mengadakan perjalanan dari kota ke kota dan dari desa ke desa, memberitakan . . . kabar baik tentang kerajaan Allah.”—LUKAS 8:1.

KITA senang berbicara tentang hal-hal yang penting bagi kita, yang dekat di hati kita. Sebagaimana Yesus sendiri katakan, ”dari kelimpahan hatilah mulut berbicara”. (Matius 12:34) Berdasarkan apa yang Yesus bicarakan selama pelayanannya, dapat disimpulkan bahwa Kerajaan Allah dekat di hatinya.

Apa Kerajaan Allah itu? Kerajaan adalah pemerintahan yang dikuasai seorang raja. Jadi, Kerajaan Allah adalah pemerintahan yang didirikan oleh Allah. Yesus berbicara panjang lebar tentang Kerajaan Allah, menjadikan itu tema beritanya. Ada lebih dari 110 kali Kerajaan itu disebutkan dalam keempat Injil. Tetapi, Yesus tidak mengajar dengan kata-kata saja. Berbagai tindakannya juga mengajarkan banyak hal tentang Kerajaan Allah dan apa yang bakal dilakukannya.

Siapa Rajanya? Raja Kerajaan Allah tidak dipilih oleh manusia melalui pemilu. Sebaliknya, Penguasa ini dipilih oleh Allah sendiri. Dalam pengajarannya, Yesus menyingkapkan bahwa dialah yang dipilih oleh Allah untuk menjadi Raja.

Yesus tahu bahwa nubuat-nubuat Alkitab telah memberi tahu di muka bahwa Mesias yang dijanjikan akan memerintah atas suatu Kerajaan yang kekal. (2 Samuel 7:12-14; Daniel 7:13, 14; Matius 26:63, 64) Ingatlah, Yesus terus terang menyatakan dirinya sebagai Mesias yang dinubuatkan. Dengan demikian, Yesus mengakui bahwa ia adalah Raja yang dilantik oleh Allah. (Yohanes 4:25, 26) Maka, tepatlah bahwa ia beberapa kali menggunakan istilah ”kerajaanku”.—Yohanes 18:36.

Yesus juga mengajarkan bahwa ada orang-orang lain yang akan memerintah bersama dia dalam Kerajaan itu. (Lukas 22:28-30) Ia menyebut para rekan penguasa ini ”kawanan kecil”, karena jumlah mereka terbatas. Ia berkata tentang mereka, ”Bapakmu telah berkenan memberikan kerajaan itu kepadamu.” (Lukas 12:32) Buku terakhir dalam Alkitab menunjukkan bahwa akan ada sejumlah 144.000 orang yang mendapat hak istimewa memerintah bersama Kristus.—Penyingkapan (Wahyu) 5:9, 10; 14:1.

Selasa, 12 November 2013

ALLAH

 


Apa pun yang disembah dapat disebut allah atau dewa, karena si penyembah mengakuinya sebagai sesuatu yang lebih perkasa daripada dirinya dan ia memujanya. Seseorang bahkan dapat menjadikan perutnya sebagai allah. (Rm 16:18; Flp 3:18, 19) Alkitab menyebutkan bahwa ada banyak allah (Mz 86:8; 1Kor 8:5, 6), tetapi memperlihatkan bahwa allah-allah berbagai bangsa tidak ada nilainya.—Mz 96:5; lihat DEWA DAN DEWI.

Kata-Kata Ibrani. Kata Ibrani yang diterjemahkan ”Allah” antara lain ialah ʼEl, yang mungkin berarti ”Yang Perkasa; Yang Kuat”. (Kej 14:18) Kata itu digunakan untuk memaksudkan Yehuwa, allah-allah lain, dan manusia. Kata itu juga digunakan secara luas sebagai bagian dari nama pribadi, seperti Elisa (yang berarti ”Allah Adalah Keselamatan”) dan Mikhael (”Siapa Seperti Allah?”). Di beberapa ayat, ʼEl muncul dengan kata sandang tentu (ha·ʼEl, harfiah, ”Allah” [bhs. Ing., the God]) untuk memaksudkan Yehuwa, dengan demikian membedakan Dia dari allah-allah lain.—Kej 46:3; 2Sam 22:31; lihat Rbi8, Apendiks 1F dan 1G.

Dalam nubuat di Yesaya 9:6, Yesus Kristus disebut sebagai ʼEl Gib·bohr, ”Allah yang Perkasa” (bukan ʼEl Syad·dai [Allah Yang Mahakuasa], yang ditujukan kepada Yehuwa di Kejadian 17:1).

Bentuk jamak, ʼe·lim, digunakan apabila memaksudkan allah-allah lain, seperti di Keluaran 15:11 (”allah-allah”). Ini juga digunakan sebagai bentuk jamak yang menyatakan keagungan dan keunggulan, seperti di Mazmur 89:6, ”Siapakah yang dapat menyamai Yehuwa di antara putra-putra Allah [bi·veneh ʼE·lim]?” Di ayat ini dan di sejumlah ayat lain, bentuk jamak digunakan untuk menyatakan satu pribadi tunggal, dan ini didukung oleh fakta bahwa ʼE·lim diterjemahkan menjadi bentuk tunggal The·os dalam Septuaginta Yunani, maupun Deus dalam Vulgata Latin.

Yesus

 
Nama dan gelar Putra Allah setelah ia diurapi sewaktu berada di bumi.

Nama Yesus (Yn., I·e·sous) sama dengan nama Ibrani Yesyua (atau, bentuk yang lebih lengkapnya, Yehosyua), yang artinya ”Yehuwa Adalah Keselamatan”. Nama itu sendiri tidak istimewa, karena pada masa itu banyak orang memiliki nama tersebut. Itulah sebabnya, sering kali ada penambahan keterangan seperti ”Yesus, orang Nazaret”. (Mrk 10:47; Kis 2:22) Kristus berasal dari kata Yunani Khri·stos, padanan kata Ibrani Ma·syiakh (Mesias), yang artinya ”Orang yang Diurapi”. Sekalipun ungkapan ”orang yang diurapi” cocok untuk diterapkan pada orang-orang sebelum Yesus, seperti Musa, Harun, dan Daud (Ibr 11:24-26; Im 4:3; 8:12; 2Sam 22:51), kedudukan, jabatan, atau dinas yang mereka pegang setelah diurapi hanyalah gambaran pendahuluan dari kedudukan, jabatan, dan dinas yang lebih unggul yang dimiliki Yesus Kristus. Oleh karena itu, dalam arti yang paling unggul dan unik Yesus adalah ”Kristus, Putra dari Allah yang hidup”.—Mat 16:16; lihat KRISTUS; MESIAS.

Eksistensi Pramanusia. Kehidupan pribadi yang kemudian dikenal sebagai Yesus Kristus tidaklah berawal di bumi. Ia sendiri berbicara tentang kehidupan pramanusianya di surga. (Yoh 3:13; 6:38, 62; 8:23, 42, 58) Yohanes 1:1, 2 menyebutkan nama untuk pribadi yang menjadi Yesus ini sewaktu ia berada di surga, ”Pada mulanya Firman [Yn., Logos] itu ada, dan Firman itu bersama Allah, dan Firman itu adalah suatu allah [”ilahi”, AT; Mo; atau ”adalah pribadi ilahi”, Böhmer; Stage (keduanya dalam bhs. Jerman)]. Pribadi ini pada mulanya bersama Allah.” Karena Yehuwa itu kekal dan tidak mempunyai permulaan (Mz 90:2; Pny 15:3), pernyataan bahwa Firman itu bersama Allah sejak ’awal mula’ dalam ayat tersebut pastilah memaksudkan awal mula pekerjaan penciptaan Yehuwa. Hal itu diteguhkan oleh ayat-ayat lain yang mengidentifikasi Yesus sebagai ”yang sulung dari antara semua ciptaan”, ”awal dari ciptaan Allah”. (Kol 1:15; Pny 1:1; 3:14) Oleh karena itu, Tulisan-Tulisan Kudus mengidentifikasi Firman itu (Yesus dalam eksistensi pramanusianya) sebagai ciptaan pertama Allah, Putra sulung-Nya.

YEHUWA



 

[bentuk kausatif imperfek dari kata kerja Ibr., ha·wah′ (menjadi); artinya ”Ia Menyebabkan Menjadi”].


Nama pribadi Allah. (Yes 42:8; 54:5) Meskipun dalam Alkitab Allah disebut dengan berbagai gelar deskriptif, misalnya ”Allah”, ”Tuan Yang Berdaulat”, ”Pencipta”, ”Bapak”, ”Yang Mahakuasa”, dan ”Yang Mahatinggi”, kepribadian serta sifat-sifat-Nya—siapa dan apa sebenarnya Dia—sepenuhnya terangkum dan dinyatakan dalam nama pribadi ini saja.—Mz 83:18.


Pelafalan yang Benar untuk Nama Ilahi. ”Yehuwa” adalah pelafalan nama ilahi yang paling banyak dikenal dalam bahasa Indonesia, meskipun ”Yahweh” lebih disukai oleh kebanyakan pakar bahasa Ibrani. Dalam manuskrip-manuskrip Ibrani tertua, nama itu ditulis dengan empat konsonan, yang umumnya disebut Tetragramaton (dari kata Yunani te·tra-, artinya ”empat”, dan gram′ma, ”huruf”). Keempat huruf itu (ditulis dari kanan ke kiri) adalah יהוה dan transliterasinya dalam bahasa Indonesia adalah YHWH.