Senin, 30 Desember 2013

Mengapa Banyak Orang Tidak Yakin?

Mengapa Banyak Orang Tidak Yakin?

BANYAK orang memperhatikan rancangan dalam alam namun demikian tidak percaya adanya seorang Perancang, seorang Pencipta. Mengapa tidak?

Apakah ketidakpercayaan ini disebabkan seseorang tidak menyetujui alasan bahwa rancangan membutuhkan seorang Perancang? Apakah ada bukti-bukti yang begitu bertentangan dengan hal ini sehingga rancangan dalam alam tidak lagi meyakinkan akal yang sehat dan cerdas?

Atau apakah alasan tersebut tetap ada, lebih kuat dari sebelumnya? Sebaliknya, apakah, seperti dikatakan rasul Paulus, orang-orang yang menolak untuk menerima apa yang nyata ’tidak dapat dimaafkan’?

Rancangan dalam Sejarah

Suatu tinjauan singkat ke dalam sejarah tentang hal ini dapat membantu. Pertama-tama, ada banyak orang ateis (tidak percaya adanya Allah) sepanjang abad. Tetapi sampai kira-kira satu abad yang lalu mereka tidak dapat mempengaruhi gagasan-gagasan agama dan ilmiah dengan serius.

Ilmuwan besar di masa lampau, seperti Isaac Newton (yang oleh penulis ilmu pengetahuan Isaac Asimov disebut ”akal ilmiah terbesar yang pernah ada di dunia ini”), percaya akan Allah. Mereka tidak menganggap ketidakpercayaan sebagai suatu mandat yang perlu untuk prestasi ilmiah mereka.

Sebaliknya, Newton dan banyak ilmuwan lain, maupun pemikir-pemikir besar dalam bidang-bidang lain, menyatakan bahwa rancangan dalam alam adalah bukti adanya seorang Perancang Agung, yaitu Allah. Itulah gagasan yang umum berlaku selama berabad-abad.

Kekerasan dalam Alam

Kemudian terjadilah suatu perubahan dengan gagasan bahwa alam semesta ini adalah hasil karya seorang Perancang yang pengasih.

Pada pertengahan abad kesembilan belas, penulis-penulis seperti Darwin, Malthus dan Spencer menarik perhatian kepada kekerasan dalam alam. Bukankah benar, kata mereka, bahwa binatang yang besar makan binatang yang kecil? Bukankah benar bahwa dalam rimba belantara, siang malam terjadi pertarungan untuk hidup atau mati?

Memang tak dapat disangkal bahwa binatang-binatang menjadi mangsa satu sama lain. Maka, jalan pikiran selanjutnya adalah: Bukankah pertarungan yang sengit untuk hidup atau mati merupakan kebenaran yang sesungguhnya tentang kehidupan di atas bumi? Ya, bahkan dalam dunia umat manusia, bukankah peperangan-peperangan yang bersifat binatang, perjuangan yang mementingkan diri dan ’hukum rimba’ merupakan kuasa-kuasa yang nyata yang membentuk sejarah? Keselarasan dan perdamaian tidak terlihat dalam alam seperti yang diharapkan seseorang dari Perancang Agung yang pengasih.

George Romanes, seorang teman Darwin melukiskan alam sebagai berikut: ”Kita melihat gigi dan cakar diasah untuk membantai, kait dan penghisap dibentuk untuk menyiksa—di mana-mana teror, kelaparan, penyakit memerintah, dengan darah yang mengalir dan kaki-kaki yang gemetar, dengan napas yang terengah-engah dan mata tidak bersalah separuh tertutup dalam kematian karena siksaan yang kejam.”

Teori Darwin tentang perjuangan yang tidak bertujuan dan kelangsungan hidup dari yang paling kuat—bukan rancangan oleh Allah—meluas dan diterima oleh umum. Dan dari sini muncullah suatu gagasan baru yang terkenal: Darwinisme Sosial.

Perhatikan bagaimana H. G. Wells menilai keadaan ini dalam bukunya Outline of History (Garis Besar Sejarah): ”Setelah tahun 1859 [tahun ketika buku Darwin Origin of Species diterbitkan] banyak sekali orang yang kehilangan iman. . . . Orang-orang pada umumnya di akhir abad kesembilan belas percaya bahwa mereka menang berdasarkan Perjuangan untuk Hidup, yaitu yang kuat dan cerdik menguasai yang lemah dan bodoh . . . Dan sama seperti dalam suatu kumpulan serigala menggertak dan menaklukkan yang lebih muda dan lebih lemah perlu demi kebaikan umum, demikianlah bagi mereka nampaknya benar bahwa anjing-anjing besar dari kumpulan manusia serigala harus menggertak dan menaklukkan.”

Banyak orang dengan cepat menerima jalan pikiran ini. Satu alasan ialah permusuhan yang patut timbul yang sudah mereka rasakan terhadap banyak gereja karena telah menekan penyelidikan ilmiah. Namun yang lebih buruk lagi, mereka dapat melihat bahwa agama-agama yang terkemuka mengobarkan dan membenarkan peperangan-peperangan dan pertumpahan darah. Karena itu, Wells dengan saksama memberi komentar: ”Emas sejati dari agama dalam banyak kasus telah dibuang bersama dengan dompet usang yang menjadi wadahnya sebegitu lama.”

’Allah Bertanggung Jawab’

Berkenaan alasan bahwa rancangan membuktikan adanya seorang Perancang, pada waktu itu dibantah: ’Jika saudara mengatakan bahwa cakar, kait dan gigi, berkuasanya teror, kelaparan dan penyakit dirancang oleh Allah, maka saudara setuju bahwa Allah anda bertanggung jawab untuk penderitaan dan kekerasan. Namun anda mengatakan Ia kasih. Bagaimana?’

Orang-orang demikian menarik kesimpulan: ’Jadi satu-satunya penjelasan yang masuk akal ialah perjuangan, kelangsungan hidup dari yang paling kuat, evolusi yang buta dan tidak berpedoman.’

Jadi alasan bahwa rancangan-berarti-ada-Perancang dapat dianggap masuk kubur. Menggunakan alasan itu berarti menuduh Allah itu kejam. Dan, menyedihkan pula, dengan cara mereka yang sudah umum, para pemimpin agama Susunan Kristen maupun dunia kafir tidak memberikan jawaban yang benar untuk problem ini.

Sejak waktu itu polanya kebanyakan tetap sama. Bila pertanyaan tentang Perancang timbul, sering kali pilihan yang sulit berkenaan kekerasan-dalam-alam ditanyakan. Misalnya, ahli filsafat Bertrand Russell mengatakan dalam bukunya Why I Am Not A Christian (Mengapa Aku Bukan Seorang Kristen):

”Apabila anda akhirnya memeriksa alasan ini dari segi rancangan, maka suatu hal yang paling mengherankan adalah bagaimana orang-orang dapat percaya bahwa dunia ini, dengan segala sesuatu yang ada di dalamnya, dengan segala cacatnya, adalah yang terbaik yang dapat dihasilkan oleh yang mahakuasa dan mahatahu dalam jutaan tahun. Saya benar-benar tidak dapat percaya. Menurut anda, jika anda dikaruniai kemahakuasaan dan kemahatahuan dan jutaan tahun untuk menyempurnakan dunia anda, apakah anda tidak dapat menghasilkan sesuatu yang lebih baik dari Ku Klux Klan atau Fasis?”

Mari kita menganalisa lebih dalam jalan pikiran ini, karena hal ini sering dipakai melawan gagasan bahwa rancangan dalam alam membutuhkan seorang Perancang.

[Gambar di hlm. 5]

Bagaimana ”hukum rimba” di antara manusia dan binatang selaras dengan seorang Perancang yang pengasih?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar